Kebutuhan Restoran Dongkrak Permintaan Selada Hidroponik di Bandarlampung

  • 06 Jul 2026 09:51 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Permintaan sayuran hidroponik, khususnya selada, terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Meningkatnya kebutuhan restoran, rumah makan, supermarket, hingga pelaku usaha kuliner di Bandarlampung membuat budidaya hidroponik dinilai memiliki prospek yang menjanjikan.

Denis, Pemilik Kebun Langit Group mengatakan, dirinya telah mengembangkan usaha hidroponik selama dua tahun.

Awalnya, ia membudidayakan beberapa jenis sayuran, seperti sawi, pakcoy, dan selada, namun kini lebih memfokuskan produksi pada tanaman selada karena permintaan pasar yang terus meningkat.

"Sebagian besar pelanggan kami berasal dari restoran, rumah makan, supermarket, hingga penjual kebab dan burber. Mereka lebih banyak membutuhkan selada sehingga saat ini kami hanya fokus menanam selada," kata Denis di Bandarlampung, Minggu 5 Juli 2026.

Denis menjelaskan usaha hidroponik dipilih karena dinilai memiliki peluang investasi yang cukup baik. Menurutnya, sistem budidaya hidroponik dapat menjadi solusi pertanian di kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan, asalkan proses budidayanya dilakukan dengan pengawasan secara maksimal.

Permintaan selada hidroponik yang terus meningkat membuat proses panen dilakukan setiap hari. Hasil panen tersebut kemudian dipasok kepada berbagai restoran, rumah makan, supermarket, hingga pelaku usaha kebab dan burger yang telah menjadi pelanggan tetap Kebun Langit Group.

"Harga jual selada kami berkisar Rp35 ribu per kilogram. Namun, harga tersebut masih bisa disesuaikan apabila pembeli mengambil dalam jumlah yang lebih banyak," ujar Denis.

Dalam menjaga kualitas tanaman, Denis mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya cuaca yang menjadi faktor paling berpengaruh karena kondisi lembap saat musim hujan dapat memicu munculnya jamur, meskipun serangan hama tergolong rendah dan hanya sesekali ditemukan kutu.

Selain cuaca, ia juga mengaku beberapa kali mengalami gagal panen akibat gangguan aliran air dan listrik. Kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak maksimal sehingga meningkatkan risiko tanaman terserang jamur.

Untuk memperoleh hasil panen yang berkualitas, Denis menggunakan benih yang dibeli langsung dari pabrik dan melalui proses penyortiran. Ia mengaku pernah mencoba berbagai jenis benih, mulai dari harga murah hingga mahal, sebelum akhirnya memilih benih dari pabrik yang dinilai lebih stabil dengan tingkat keberhasilan yang lebih baik.

Menurut Denis, hidroponik berpotensi menjadi salah satu solusi dalam mendukung ketahanan pangan di kawasan perkotaan. Namun, ia menilai sistem budidaya tersebut membutuhkan pengawasan penuh, mulai dari nutrisi, aliran air, hingga kondisi lingkungan tanaman agar hasil panen tetap optimal.

"Harapan saya, pertanian hidroponik di Bandarlampung semakin mendapat dukungan melalui pelatihan, bantuan sarana dan prasarana, pembibitan, serta permodalan bagi petani kecil. Dengan begitu, semakin banyak masyarakat yang bisa mengembangkan usaha hidroponik," kata Denis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....