Pameran “Per-Empu-An” Dibuka , Angkat Peran Perempuan dalam Kebudayaan

  • 08 Jun 2026 09:52 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID,Bandar Lampung — Pameran seni rupa bertajuk “Per-Empu-An: Cahaya dan Budaya” resmi dibuka di Ruang Apresiasi Taman Budaya Lampung pada Senin (1/6/2026) . Kegiatan yang digagas oleh Komunitas Bireo bekerja sama dengan Forum Perupa Lampung ini menghadirkan sejumlah karya yang merefleksikan peran perempuan dalam kebudayaan, ingatan kolektif, serta konstruksi makna sosial.

Pembukaan pameran dilakukan oleh Firmansyah Y. Alfian. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi upaya para seniman dalam menciptakan ruang dialog melalui bahasa visual yang kritis dan reflektif. Sejumlah tokoh seni dan akademisi juga hadir untuk mendukung geliat seni rupa di daerah, antara lain Helmy Azeharie, Pulung Swandaru, Sapto Wibowo, Doni Andrianto Basuki, dan Muprihan Thaib.

Kurator pameran, David, menjelaskan bahwa karya-karya yang ditampilkan berfungsi sebagai medium refleksi atas posisi perempuan dalam kehidupan budaya. Menurut dia, setiap karya menghadirkan dialog antara pengalaman personal seniman dengan realitas sosial yang lebih luas.

“Seniman menghadirkan perspektif perempuan melalui bahasa visual yang beragam dan berlapis. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan yang mendalam terhadap relasi antara tubuh, ruang, dan makna. Seni menjadi sarana artikulasi pengalaman budaya perempuan,” ujar David.

Sementara itu, Ketua Umum Komunitas Bireo, Ahmad Rio Nur Saputro, menegaskan bahwa pameran ini tidak hanya menempatkan perempuan sebagai subjek budaya, tetapi juga menyoroti pentingnya ingatan sebagai bagian dari proses kebudayaan yang berkelanjutan.

“Ingatan perempuan, baik yang bersifat personal maupun kolektif, menjadi sumber narasi yang membentuk identitas budaya. Ingatan itu hadir dalam cerita, simbol, dan gestur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui karya seni, memori tersebut dihadirkan kembali dalam konteks kekinian,” ungkap Ahmad Rio.

Sebagai rangkaian acara, penyelenggara juga menggelar diskusi publik dengan tema serupa. Diskusi tersebut menghadirkan Imas Sobariah, kurator David, serta Joko Irianta sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Imas Sobariah menyoroti urgensi kesetaraan perempuan dalam ruang budaya. Ia menyatakan bahwa konsep perempuan, cahaya, dan budaya menghadirkan pemahaman bahwa kebudayaan merupakan proses hidup yang terus berkembang.

“Perempuan bukan hanya bagian dari kebudayaan, tetapi juga penghasil makna dan penjaga nilai-nilai budaya. Cahaya menjadi metafora pengetahuan dan kesadaran yang lahir dari pengalaman perempuan,” jelasnya.

Pameran ini mendapat sambutan positif dari masyarakat, khususnya kalangan akademik. Tingginya kehadiran mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Lampung menunjukkan minat generasi muda terhadap seni rupa sebagai ruang refleksi sosial.

Melalui kegiatan ini, Komunitas Bireo berharap dapat mendorong pertumbuhan komunitas seni rupa baru di Lampung serta memperkuat ekosistem kesenian daerah. Pameran “Per-Empu-An: Cahaya dan Budaya” diharapkan tidak hanya menjadi wadah ekspresi kreatif, tetapi juga ruang perjumpaan gagasan dan nilai kemanusiaan yang relevan bagi masyarakat modern.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....