Tokoh dan Akademisi Kritik Absennya Pakaian Adat pada Hardiknas di Unila

  • 04 Mei 2026 13:19 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung – Pelaksanaan upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di Universitas Lampung (Unila) pada Sabtu, 2 Mei 2026 lalu menuai kritik. Jajaran pimpinan universitas dinilai mengabaikan tradisi penggunaan pakaian adat daerah yang seharusnya menjadi simbol kebanggaan dan identitas budaya Lampung.

Tokoh masyarakat Lampung sekaligus Anggota Komisi VII DPR RI, Rycko Menoza SZP, menyayangkan keputusan Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, beserta para Wakil Rektor yang tidak mengenakan pakaian adat atau batik khas Lampung dalam momentum tersebut. Menurutnya, sebagai pimpinan lembaga pendidikan tinggi terbesar di "Sai Bumi Ruwa Jurai", rektorat seharusnya menjadi teladan dalam mempromosikan budaya daerah.

"Rasanya pada acara seperti ini, mengenakan dan mempromosikan pakaian adat atau batik khas Lampung akan jauh lebih keren. Tabik Pun," ujar Rycko Menoza, di Bandar Lampung, Senin, 4 Mei 2026.

Ia menambahkan kejadian ini seolah menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap adat istiadat setempat.

"Sangat disayangkan, mereka adalah pimpinan lembaga pendidikan di tanah Lampung, namun beberapa kali terlihat tidak menggunakan atribut yang menghormati adat kita," kata Rycko.

Momentum Refleksi dan Instruksi Kementerian

Senada dengan akademisi Universitas Tulang Bawang (UTB) Lampung yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, Dr. Tauhidi. Dia menekankan Hardiknas setiap 2 Mei seharusnya menjadi momentum refleksi kemajuan mutu pendidikan, termasuk pelestarian nilai budaya.

Tauhidi menjelaskan bahwa mengacu pada instruksi kementerian terkait dan tradisi kampus, jajaran pimpinan perguruan tinggi biasanya diwajibkan mengenakan pakaian tradisional daerah setempat saat upacara bendera.

"Pakaian adat itu menunjukkan bahwa perguruan tinggi tersebut merupakan kebanggaan daerah. Sebagai institusi yang mengusung nama 'Lampung' dalam nomenklaturnya, sangat disayangkan apabila Unila menghilangkan tradisi ini pada Hardiknas 2026," kata Tauhidi.

Lebih lanjut, ia memaparkan penggunaan pakaian adat bukan sekadar formalitas, melainkan representasi dari dampak kehadiran perguruan tinggi terhadap lingkungan sosial dan budayanya.

"Ini menjadi pertanyaan besar mengapa tradisi berpakaian adat Lampung tidak lagi digunakan. Padahal, identitas budaya adalah bagian tak terpisahkan dari muruah sebuah lembaga pendidikan di daerah," ucap Tauhidi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....