BI Lampung Dorong Hilirisasi Komoditas Pangan untuk Perkuat Ekonomi Daerah

  • 01 Mei 2026 20:07 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung: Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menekankan pentingnya pengembangan model bisnis hilirisasi komoditas strategis, khususnya tanaman pangan, sebagai langkah memperkuat struktur ekonomi daerah.

Menurutnya, selama ini komoditas unggulan Lampung cenderung hanya dikonsumsi langsung atau dijual dalam bentuk mentah tanpa melalui proses pengolahan lebih lanjut. Kondisi tersebut dinilai belum mampu menciptakan nilai tambah yang optimal bagi perekonomian daerah.

“Kalau komoditas itu hanya habis dikonsumsi dan tidak diolah menjadi produk turunan, nilai tambahnya jadi terbatas. Memang dampaknya ke pertumbuhan ekonomi tetap besar karena volumenya tinggi, tapi belum berada pada posisi yang optimal,” ujar Bimo, Jumat 1 Mei 2026.

Ia menjelaskan, nilai tambah dari komoditas Lampung kerap justru dinikmati oleh daerah lain yang memiliki industri pengolahan. Oleh karena itu, Bank Indonesia mendorong agar proses hilirisasi dilakukan langsung di Lampung.

Melalui hilirisasi, komoditas seperti cabai dan bawang merah tidak hanya dijual mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk seperti saus atau bumbu olahan. Dengan demikian, harga jual menjadi lebih tinggi dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

“Kalau pengolahannya dilakukan di Lampung, maka akan muncul aktivitas ekonomi baru yang berdampak pada peningkatan pajak dan retribusi daerah. Ini berbeda dengan komoditas yang langsung habis dikonsumsi, yang kontribusi fiskalnya relatif minim,” jelasnya.

Selain meningkatkan pendapatan daerah, hilirisasi juga dinilai mampu membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan petani. Aktivitas industri turunan akan menyerap tenaga kerja tambahan serta mendorong tumbuhnya pelaku usaha baru, termasuk UMKM.

Bimo menambahkan, fokus utama pengembangan hilirisasi saat ini mencakup komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah. Namun, peluang tersebut juga terbuka untuk komoditas strategis lainnya seperti jagung, singkong, dan kopi.

Khusus untuk kopi, Lampung dikenal sebagai salah satu produsen besar di Indonesia. Namun, sebagian besar ekspor masih dalam bentuk biji mentah (green bean), sehingga nilai tambahnya belum maksimal dirasakan daerah.

“Selama ini kita melihat nilai ekspor kopi yang besar, tapi karena masih dalam bentuk biji, manfaat tambahannya belum banyak dirasakan. Kalau diolah di dalam daerah, akan ada penyerapan tenaga kerja, peningkatan pajak, dan ekspor produk bernilai lebih tinggi,” ujarnya.

Ia juga menilai, pengembangan hilirisasi tidak harus selalu dimulai dari investasi berskala besar. Menurutnya, pelaku usaha kecil dan menengah dapat menjadi penggerak awal melalui pengolahan sederhana yang berkembang.

Dengan semakin luasnya aktivitas hilirisasi di Lampung, diharapkan terjadi peningkatan pendapatan daerah yang pada akhirnya berdampak pada kualitas layanan publik dan kesejahteraan masyarakat.

“Ini akan menjadi siklus yang positif. Pendapatan meningkat, layanan publik membaik, dan ekonomi daerah menjadi lebih kuat,” pungkasnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....