Paguyuban Pasundan Wilayah Lampung Gelar Silaturahmi dan Buka Bersama
- 28 Feb 2026 15:06 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung: Pengurus Paguyuban Pasundan Wilayah Lampung bersilaturahmi di Aula Studio 2 RRI Bandarlampung, Jumat (27/2). Acara dikemas melalui Pangaosan & Iftor Jama'i (pengajian dan buka puasa) dengan tema Nyunda, Nyantri, Nyantika, Silih Asih, Silih Asuh tersebut dibuka Pupuhu Paguyuban Pasundan Wilayah Lampung Dr. Ir. KH. Abdul Hakim, M.M. bersama sekretarisnya, Prof. Dr. Undang Rosidin, M.Pd. Dilanjutkan taushiyah dari Prof. Dr. Abdurrahman, M.Si. serta pemaparan program paguyuban dari Prof. Ujang Suparman, M.A., Ph.D. dan ditutup doa oleh KH. Zaenal Abidin.
Dalam sambutannya, KH Abdul Hakim menekankan bahwa warga Pasundan harus nyunda, nyantri, nyakola, nyantika, silih asih, silih asuh, dan silih asah sebagaimana tema pengajian dan buka puasa bersamanya. Nyunda dimaksud yaitu orang Sunda harus berbudi pekerti luhur dan indah karena berhikmah.
Menurutnya untuk nyunda tidak mungkin kalau tidak nyantri, yaitu belajar agama, membaca dan memahami ayat-ayat kauniyah maupun kauliyah Allah Swt. Kemudian, nyakola yang konsepnya sama dengan nyantri. "Sehingga dengan nyantri dan nyakola maka akan menjadi insan yang terdidik, beriman, berilmu, dan berakhlakul karimah," tandas Abdul Hakim yang juga anggota DPD RI ini.
Adapun inyantika, yaitu indah atau dapat mempercantik diri dengan berhikmah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Lalu silih asih (saling mengasihi), silih asuh (saling melindungi dan mengayomi, dan silih asah (saling menasihati atau mengajari) kepada siapa pun.
"Dan insya Allah, kita warga Pasundan akan berikhtiar untuk menerapkan filosofi Nyunda itu dalam kehidupan bermasyarakat," pungkasnya.
Sementara dalam taushiyah singkatnya, Prof. Dr. Abdurrahman, M.Si. mengingatkan hakikat dari puasa adalah pengendalian hawa nafsu yang secara rohanu untuk dapat membersihkan diri dan kembali kepada fitrah manusia yang suci, belum terkontaminasi dosa. Pun ditinjau dari segi kesehatan jasmani, puasa dapat menormalisasi sel-sel tubuh dari kotoran dan penyakit.
Abdurrahman juga mengibaratkan tubuh manusia ini dengan sofware komputer yang sudah penuh dengan virus hingga mengganggu fungsinya dan perlu direfresh agar kembali normal seperti setelan awalnya. Demikian juga manusia yang secara rohani punya banyak dosa. "Dimana, dosa ini akan menghambat semua proses kebaikan dalam diri manusia, sama halnya dengan virus komputer yang menghambat fungsi kerja normal komouter," tegas Abdurrahman yang juga Kepala Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu Universitas Lampung ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....