Cara Tradisional Menangkap Belut, Warisan Pengetahuan Lokal

  • 24 Agt 2025 06:56 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Bandar Lampung : Belut merupakan salah satu hewan air tawar yang banyak ditemukan di persawahan dan rawa-rawa. Selain rasanya yang lezat, belut juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Tidak heran, masyarakat pedesaan sejak lama mengembangkan berbagai cara untuk menangkap belut. Hingga kini, sebagian warga masih mempertahankan cara tradisional dalam berburu hewan licin ini.

Zubaidi Ali, warga Pekon Pardawaras Kecamatan Semaka Kabupaten Tanggamus,yang sehari- harinya bekerja sebagai petani dan penangkap belut mengatakan ada beberapa metode tradisional yang sering ia gunakan untuk menangkap belut, yaitu nakah , Ngawil dan ngebubu

" Dalam menangkap belut saya selalu nakah , Ngawil atau ngebubu atau masang bubu. Nakah merupakan metode menangkap belut saat malam hari di sawah dengan menggunakan penerangan lampu obor atau petromaks, Kalau ngebubu beda lagi caranya. Bubu berbentuk tabung panjang terbuat dari anyaman bambu yang dipasang di jalur aliran air atau di lubang-lubang tempat belut bersembunyi. Umpan berupa cacing atau ikan kecil dimasukkan ke dalam bubu. Setelah dibiarkan semalaman, biasanya belut sudah masuk dan terperangkap. Cara ini dinilai ramah lingkungan karena tidak merusak habitat.

Selanjutnya ngawil atau memancing, yakni memasang perangkap pancing didalam lubang tanah di sawah . Cara ini membutuhkan keterampilan khusus dan kesabaran. Warga biasanya mencari lubang yang menjadi sarang belut, lalu mengorek dengan tangan atau alat sederhana. Tangan harus hati-hati karena belut sangat licin dan mudah lolos, " ungkap zubaidi.

Ketiga cara tersebut hingga kini masih digunakan oleh Masyarakat.

Cara tradisional menangkap belut bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dapur, tetapi juga bagian dari kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. "Menangkap belut dengan cara tradisional lebih aman, tidak merusak alam, dan bisa menjadi pengalaman menarik bagi generasi muda.

Dengan tetap dilestarikannya metode tradisional ini, masyarakat tidak hanya menjaga sumber pangan alami, tetapi juga merawat warisan pengetahuan yang sarat nilai kebersamaan dan kearifan lokal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....