Bupati Pringsewu dan Penyair Bertukar Suara Hati

  • 12 Jun 2025 11:30 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Pringsewu: Malam itu, di pendopo yang disulap menjadi panggung kebangsaan, dua tokoh dari dunia berbeda berdiri sejajar di bawah cahaya remang: satu seorang kepala daerah, satu lagi penyair sepuh.

Riyanto Pamungkas, Bupati Pringsewu, membacakan puisi berjudul Aku. Di hadapan Isbedy Stiawan ZS, yang dikenal sebagai Paus Sastra Lampung menjawab dengan Rawa Subur. Bukan saling adu argumentasi, melainkan berduel dalam diam, lewat bait dan makna.

Itulah salah satu momen paling mencuri perhatian dalam Malam Pembacaan Puisi Kebangsaan yang digelar di Pendopo Graha Pamungkas, Rabu (11/6/2025) malam. Acara ini menjadi penanda peringatan Hari Lahir Pancasila, yang dirayakan bukan dengan pidato formal, melainkan dengan sastra sebagai wujud ekspresi kebangsaan.

Bukan hanya Riyanto dan Isbedy, sederet nama lain ikut tampil. Wakil Bupati Umi Laila, Wakil Ketua Komisi I DPRD Provinsi Lampung Ade Utami Ibnu, hingga mantan Bupati KH. Sujadi Saddat dan mantan Ketua P3KP Wanawir, turut membaca puisi. Di antara mereka, masyarakat dari beragam kalangan turut menyimak dengan hening dan hormat.

"Pancasila bukan hanya dasar negara. Ia adalah jiwa bangsa," kata Kepala Kesbangpol Provinsi Lampung, Senen Mustakim, yang hadir mewakili Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.

Ia menyebut acara ini sebagai bentuk perayaan kebangsaan yang hidup, bukan sekadar seremoni. Ia pun berharap agar tradisi ini bisa menjadi agenda tahunan yang lebih besar dan melibatkan lebih banyak generasi muda.

Bupati Riyanto sendiri tak sekadar membacakan puisi. Ia menyampaikan keresahannya atas menurunnya minat literasi di kalangan muda. “Hari ini anak-anak muda kita lebih sering menyampaikan pendapat di media sosial, yang kadang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Padahal ada puisi, prosa, tulisan cara-cara yang lebih beradab dan mendalam,” ujarnya.

Isbedy menambahkan, bahwa acara seperti ini jarang lahir dari ruang kekuasaan.

"Negara sebetulnya berhutang pada sastrawan. M. Yamin, misalnya, menciptakan Sumpah Pemuda sebuah karya sastra futuristik yang lahir sebelum negara Indonesia ada,” kata penyair yang sudah lebih dari empat dekade menulis itu.

Di tengah kegersangan politik identitas dan riuhnya kontestasi digital, malam puisi ini menjadi jeda yang tenang. Sebuah ruang kontemplatif, tempat para pemimpin dan warga kembali merayakan Indonesia dengan cara yang lebih lirih namun tak kalah kuat: lewat kata-kata.

Acara ini dihadiri pula oleh Ketua DPRD Pringsewu Suherman, Kapolres AKBP M. Yunus Saputra, Dandim 0424 Letkol Inf. Vicky Heru Harsanto, Ketua TP-PKK Ny. Rahayu Sri Astutik, dan jajaran pejabat daerah lainnya. Di antara mereka, suara puisi bergaung menyampaikan harapan tentang negeri yang tak hanya tumbuh secara fisik, tapi juga batinnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....