Kisah Viola: Sembilan Tahun Merantau Australia, Rindu Takjil Lampung

  • 04 Mar 2026 06:46 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI CO.ID, Bandarlampung/SYDNEY – Menjadi minoritas di negeri orang bukan penghalang bagi Viola Kemalasari untuk tetap teguh menjalankan ibadah. Perantau asal Lampung yang akrab disapa Kak Usi ini membagikan kisah inspiratifnya menjalani dinamika Ramadan dan karier cemerlang di Australia selama hampir satu dekade terakhir. Rabu (4/3/2025).

Sejak menetap di Australia pada tahun 2017, Viola merasakan perbedaan kontras, terutama saat bulan suci Ramadan tiba. Durasi puasa di Negeri Kangguru sangat bergantung pada musim. "Jika Ramadan jatuh pada musim panas, waktu berbuka bisa mencapai hampir pukul delapan malam karena matahari tenggelam lebih lambat," ungkap Viola, saat dialog via WhatsApp di pro-4 RRI Bandarlampung.

Meski melelahkan karena durasi yang lebih panjang, semangatnya tak luntur berkat dukungan lingkungan yang inklusif. Salah satu hal yang paling berkesan bagi Viola adalah tingginya rasa toleransi beragama di Australia. Baik di sektor pemerintahan maupun swasta, perusahaan sangat fleksibel terhadap karyawan yang berpuasa. Beberapa kebijakan yang dirasakan Viola antara lain, fleksibilitas Jam kerja diberikan izin pulang lebih awal atau mulai bekerja lebih siang setelah sahur. Fasilitas khusus, Untuk pekerja lapangan, pemberi kerja menyediakan fasilitas pendingin guna mencegah dehidrasi saat cuaca ekstrem.

Lebih lanjut Viola mengungkapkan kariernya di Australia terbilang sukses. Memulai langkah di sektor pemerintahan, kini ia berkecimpung di industri keuangan swasta. Meski telah mengantongi status Permanent Resident (PR), ia memilih untuk tetap menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). "Saya tetap memegang paspor Indonesia agar mudah mengurus aset dan pulang ke Lampung kapan saja," tuturnya. Status PR memberinya keistimewaan untuk keluar-masuk Australia tanpa kerumitan visa, namun tetap menjaga ikatan batin dengan tanah air. Perantau asal Lampung itu juga mengungkapkan bahwa hidup di Australia juga harus siap dengan cuaca ekstrem. Saat musim dingin suhu bisa merosot -7 hingga -10 derajat Celcius. Tak jarang Viola memilih " mela ikan diri" sejenak ke Bali untuk mencari kehangatan matahari.

Namun, tantangan terberat baginya bukanlah cuaca, melainkan kerinduan akan atmosfer Ramadan di Indonesia. Di Australia, tidak ada suara azan yang bersahut-sahutan di ruang publik atau deretan pedagang takjil di pinggir jalan.

"Suasana Ramadan terasa lebih sunyi secara visual dan pendengaran. Jika tidak sedang beribadah personal atau berkumpul komunitas, rasanya seperti menjalani hari-hari biasa," kata Viola.

Bahkan untuk salat Idul Fitri, tantangannya cukup unik. Karena terbatasnya jumlah masjid dibandingkan jumlah jemaah yang membeludak, sistem booking tempat secara daring (online) wajib dilakukan. Hal ini sangat kontras dengan pemandangan di Indonesia di mana lapangan dan masjid selalu terbuka luas.

Kisah Viola adalah potret resiliensi diaspora Indonesia. Di tengah kesuksesan finansial dan karier di kancah internasional, ia tetap membawa nilai-nilai luhur tanah kelahiran dan kerinduan mendalam pada hangatnya suasana Lampung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....