Selikuran Bukan Lailatul Qadar, Ini Perbedaan dan Keutamaan Malam 21 Ramadhan
- 03 Mar 2026 13:48 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Masyarakat Jawa mengenal tradisi Malam Selikuran yang digelar setiap 21 Ramadhan. Namun, Malam Selikuran berbeda dengan Lailatul Qadar yang merupakan bagian dari ajaran Islam.
Selikuran berasal dari kata “selikur” yang berarti dua puluh satu dalam bahasa Jawa. Melansir laman resmi Keraton Surakarta Hadiningrat, tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun dan biasanya diisi dengan kirab budaya, doa bersama, serta pembagian makanan kepada masyarakat sebagai bentuk syukur menyambut sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Tradisi Selikuran banyak dijumpai di wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Secara budaya, kegiatan ini menjadi simbol kesiapan spiritual masyarakat dalam memasuki fase akhir bulan suci.
Sementara itu, Lailatul Qadar adalah malam istimewa dalam Islam yang disebut dalam Al-Qur’an Surah Al-Qadr sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Melansir hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Muhammad menganjurkan umat Islam untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil.
Perbedaan mendasar keduanya terletak pada aspek budaya dan syariat. Selikuran merupakan tradisi kearifan lokal yang waktunya pasti, yakni malam 21 Ramadhan. Sedangkan Lailatul Qadar adalah peristiwa spiritual yang waktunya dirahasiakan dan tidak dapat dipastikan jatuh pada tanggal tertentu.
Tokoh agama mengimbau masyarakat untuk memahami perbedaan tersebut agar tidak terjadi penyamaan antara tradisi budaya dengan ajaran agama. Dengan pemahaman yang tepat, tradisi Selikuran dapat tetap dilestarikan tanpa mengaburkan makna Lailatul Qadar dalam ajaran Islam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....