Kisah Ngabuburit dari Generasi ke Generasi
- 20 Feb 2026 09:00 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Menunggu waktu berbuka puasa atau yang dikenal dengan istilah ngabuburit sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia selama bulan Ramadhan. Aktivitas ini tidak hanya sekadar mengisi waktu menjelang maghrib, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Istilah ngabuburit sendiri berasal dari bahasa Sunda, yang berarti menunggu waktu sore hingga tiba saat berbuka puasa. Seiring waktu, istilah ini digunakan secara luas di berbagai daerah di Indonesia dan identik dengan kegiatan santai menjelang berbuka. Sejumlah media nasional seperti Kompas.com mencatat bahwa tradisi ngabuburit telah berkembang menjadi bagian dari budaya Ramadhan di ruang publik maupun lingkungan keluarga.
Pada masa lalu, ngabuburit biasanya dilakukan dengan aktivitas sederhana. Anak-anak bermain di halaman rumah atau di lapangan, sementara orang dewasa berkumpul sambil berbincang dengan tetangga. Di beberapa daerah, masyarakat juga menunggu azan maghrib dengan berjalan santai di sekitar kampung atau mengunjungi pasar takjil yang mulai ramai menjelang waktu berbuka.
Memasuki era modern, cara masyarakat melakukan ngabuburit mulai berubah. Banyak generasi muda mengisi waktu dengan kegiatan yang lebih beragam, seperti berburu kuliner Ramadhan, berolahraga ringan, atau berkumpul bersama teman di ruang terbuka kota. Meski demikian, esensi dari ngabuburit tetap sama, yaitu menikmati waktu sore dengan suasana yang santai dan penuh kebersamaan.
Menurut penjelasan dari Kementerian Agama Republik Indonesia, bulan Ramadhan memang menjadi waktu yang dianjurkan untuk mempererat hubungan sosial dan memperbanyak kegiatan positif. Tradisi seperti ngabuburit dapat menjadi sarana untuk menjaga kebersamaan sekaligus mengisi waktu dengan aktivitas yang bermanfaat.
Di beberapa kota besar, ngabuburit bahkan berkembang menjadi kegiatan komunitas. Ada yang mengadakan kegiatan sosial, berbagi makanan untuk berbuka puasa, hingga acara seni dan budaya Ramadhan. Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi lama bisa tetap hidup meskipun zaman terus berubah.
Bagi banyak orang, ngabuburit bukan hanya soal menunggu waktu berbuka. Lebih dari itu, tradisi ini menyimpan kenangan masa kecil, kebersamaan keluarga, dan suasana khas Ramadhan yang selalu dirindukan setiap tahun. Karena itulah, kisah ngabuburit terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjadi bagian dari warna budaya Ramadhan di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....