Ramadan di Usia Senja, Kisah Rukayah yang Tetap Kuat Berpuasa
- 19 Feb 2026 13:37 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Lampung Selatan – Ramadan selalu menghadirkan kisah tentang keteguhan hati. Di sebuah rumah sederhana di Desa Way Huwi, Kecamatan Jatiagung, Kabupaten Lampung Selatan, Rukayah, seorang lansia berusia lebih dari enam puluh tahun, menjalani hari-hari puasanya dengan langkah pelan namun penuh keyakinan.
Usia yang tak lagi muda membuat setiap aktivitas terasa lebih berat, tetapi semangatnya tak pernah surut. Sejak dini hari, Rukayah telah terbangun untuk menyiapkan makan sahur. Gerakannya perlahan, sesekali berhenti untuk mengatur napas. Menu sahur yang disiapkan pun sederhana, disesuaikan dengan kondisi kesehatannya.
Ia harus memperhatikan asupan makanan karena tekanan darahnya kerap berubah dan tubuhnya mudah Lelah. Namun Rukayah mengaku hingga saat ini, dirinya tidak pernah mengalami kendala dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan.
“Kalo puasa ya memang itu kan ibadah wajib bagi umat muslim. Kalau tidak ada halangan ya tetap harus puasa. Saya sudah umur 64 tahun saat ini, Alhamdulillah selalu diberi kelancaran untuk menjalankan puasa,” ujarnya, Kamis 19 Februari 2026.
Menjalani puasa di usia senja bukan perkara ringan. Rukayah menyadari tubuhnya tidak lagi sekuat dahulu. Sebagian besar waktunya diisi dengan beribadah.
Mushaf Al-Qur’an setia berada di sampingnya. Ayat demi ayat rutin dilantunkan setelah menunaikan Salat Subuh. Bagi Rukayah, Ramadan adalah kesempatan berharga untuk memperbanyak amal dan memperdalam ketenangan batin.
“Setelah sholat subuh, ya saya membaca Al Qur’an. Insya Allah bulan Ramadan ini jadi ladang ibadah yang sangat bagus untuk tekun menjalan ibadah, seperti mengaji,” ucap wanita yang telah memiliki lima orang cucu ini.
Keluarga menjadi penopang utama perjuangannya. Anak dan cucu bergantian memastikan kondisinya tetap stabil. Mereka menyiapkan makanan saat sahur dan berbuka serta mengingatkan agar Rukayah cukup beristirahat. Perhatian itu menjadi penguat yang membuatnya merasa tidak sendiri. Menjelang waktu berbuka, Ia menunggu azan magrib dengan sabar, duduk di ruang keluarga ditemani orang-orang tercinta. Buka puasa menjadi momen syukur yang sederhana, tetapi sarat makna.
“Kalo buka puasa pakai menu seadanya saja, karena ekonomi saya juga terbatas, Yang penting bisa kumpul dengan anak cucu, dengan keluarga,” kata Rukayah.
Di tengah keterbatasan fisik, Rukayah menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk tetap beribadah. Keteguhan Rukayah menjalani puasa menjadi gambaran bahwa kekuatan sejati lahir dari keyakinan dan ketulusan hati, walau usia mulai menua. Ramadhan baginya bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan perjalanan spiritual yang terus dirawat hingga usia senja.
Di balik tubuh yang menua, tersimpan keteguhan iman yang tak lekang oleh waktu. Perjuangan para lansia menjalankan ibadah puasa menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati bukan hanya terletak pada fisik, melainkan pada keyakinan dan ketulusan hati dalam beribadah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....