Terungkap! Ini Alasan Buka Puasa Diawali Dengan yang Manis

  • 18 Feb 2026 19:20 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung : Bulan suci Ramadan selalu identik dengan tradisi berbuka puasa menggunakan makanan atau minuman manis. Mulai dari kurma, kolak, hingga teh hangat bergula, kebiasaan ini telah mengakar kuat di tengah masyarakat Muslim, termasuk di Indonesia. Namun, apa sebenarnya alasan di balik anjuran tersebut?

Secara historis, kebiasaan berbuka dengan yang manis merujuk pada sunnah Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan berbuka dengan kurma. Dalam sejumlah riwayat, Nabi disebut berbuka menggunakan kurma segar atau kering sebelum melaksanakan salat Magrib. Tradisi ini kemudian diikuti oleh umat Islam di berbagai belahan dunia.

Dari sisi kesehatan, para ahli gizi menjelaskan bahwa setelah berpuasa sekitar 12–14 jam, kadar gula darah dalam tubuh cenderung menurun. Mengonsumsi makanan manis membantu mengembalikan kadar glukosa dengan cepat sehingga tubuh kembali bertenaga. Gula alami yang terdapat dalam kurma, misalnya, mudah diserap tubuh dan tidak memberatkan sistem pencernaan yang sebelumnya beristirahat cukup lama.

Selain itu, makanan manis dalam porsi wajar juga dapat membantu otak mendapatkan asupan energi secara cepat. Hal ini membuat tubuh tidak terasa lemas atau pusing saat berbuka. Meski demikian, para ahli tetap mengingatkan agar konsumsi gula tidak berlebihan karena dapat memicu lonjakan gula darah secara drastis.

Di Indonesia, tradisi berbuka dengan takjil manis juga berkembang menjadi bagian dari budaya Ramadan. Hidangan seperti kolak pisang, es buah, hingga sirup manis menjadi pilihan favorit keluarga saat azan Magrib berkumandang.

Dengan demikian, anjuran berbuka dengan yang manis bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan memiliki landasan sunnah serta penjelasan ilmiah. Kuncinya tetap pada keseimbangan, agar ibadah lancar dan kesehatan tetap terjaga sepanjang bulan Ramadan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....