Meneladani Sunnah Rasulullah di Bulan Ramadan

  • 11 Feb 2026 12:53 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum memperbanyak amalan sunnah yang dicontohkan Rasulullah SAW. 

Di bulan penuh ampunan, setiap detik menjadi peluang meraih pahala berlipat. Sejumlah ibadah sunnah  dianjurkan untuk menguatkan kualitas puasa sekaligus mempererat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Salah satu sunnah yang ditekankan adalah menyegerakan berbuka puasa saat waktu Maghrib tiba. 

Rasulullah SAW bersabda, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Anjuran ini menyatakan ketaatan terhadap waktu berbuka merupakan bagian dari mengikuti tuntunan Nabi. Beliau juga mencontohkan berbuka dengan kurma. 

Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi disebutkan, Rasulullah SAW berbuka dengan beberapa butir kurma basah sebelum salat. Jika tidak ada, beliau mengonsumsi kurma kering, dan bila tidak tersedia, cukup dengan beberapa teguk air.

Menjelang fajar, umat Islam juga dianjurkan melaksanakan sahur dan mengakhirkannya mendekati waktu subuh. 

Rasulullah SAW bersabda, “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Sahur bukan sekadar penguat fisik selama berpuasa, melainkan juga pembeda antara puasa umat Islam dengan umat-umat sebelumnya.

Ramadan juga identik dengan meningkatnya kepedulian sosial. Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin bertambah di bulan Ramadan. 

Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa Nabi SAW lebih dermawan daripada angin yang berhembus ketika Ramadhan tiba. 

Spirit inilah yang mendorong umat Islam memperbanyak sedekah, membantu sesama, dan berbagi kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan.

Selain itu, bulan Ramadan menjadi bulan Al-Qur’an. Dalam riwayat Bukhari dijelaskan bahwa Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW setiap malam di bulan Ramadhan untuk mengulang bacaan Al-Qur’an. 

Tradisi tadarus pun menjadi amalan yang hidup di tengah masyarakat, baik di masjid, mushala, maupun di rumah-rumah, sebagai bentuk meneladani kebiasaan Nabi.

Memasuki sepuluh hari terakhir, Rasulullah SAW meningkatkan intensitas ibadahnya dan melakukan i’tikaf di masjid. 

“Nabi SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau” (HR. Bukhari dan Muslim). I’tikaf menjadi ikhtiar mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memburu keutamaan Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Ramadan juga dihidupkan dengan salat tarawih pada malam hari. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Qiyam Ramadan ini menjadi ruang refleksi dan penguatan iman setelah seharian berpuasa.

Di antara waktu yang mustajab di bulan ini adalah saat berbuka puasa. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa orang yang berpuasa hingga berbuka tidak tertolak (HR. Tirmidzi). 

Karena itu, Ramadan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga memperbanyak doa, memohon ampun, serta berharap kebaikan dunia dan akhirat.

Dengan meneladani sunnah-sunnah Rasulullah SAW selama Ramadan, ibadah puasa menjadi lebih bermakna. Tidak sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi juga menghadirkan kedalaman spiritual dan kepedulian sosial yang menjadi ruh dari bulan suci itu sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....