Mengintip Kehangatan Nobar Piala Dunia Tempo Dulu: Satu TV untuk Satu Kampung
- 27 Jun 2026 22:51 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung : Tradisi nonton bareng (nobar) sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan setiap kali pesta sepak bola terakbar, Piala Dunia, bergulir. Namun, aktivitas yang kini menjadi industri hiburan besar ini memiliki catatan sejarah panjang yang berakar dari keterbatasan teknologi di masa lampau.
Kilas balik ke era 1970-an, masyarakat Indonesia pertama kali mengenal siaran Piala Dunia secara terbatas. Pada masa itu, siaran televisi yang mengudara masih dalam format hitam-putih dan jangkauan pemancar sinyalnya belum merata ke seluruh pelosok negeri. Karena kepemilikan perangkat televisi masih tergolong barang mewah, warga di daerah perkampungan biasanya spontan berkumpul di rumah ketua RT, balai desa, atau rumah tokoh masyarakat yang memiliki TV untuk menyaksikan pertandingan bersama. Inilah embrio dari kultur "nobar" yang lahir dari rasa kebersamaan.
Pergeseran nobar menjadi sebuah acara yang terorganisasi dan komersial mulai tampak pada akhir era 1970-an, tepatnya saat gelaran Piala Dunia 1978. Keterbatasan hak siar langsung (live) stasiun televisi lokal membuat sejumlah tempat hiburan dan hotel berbintang di kota-kota besar mengambil inisiatif. Mereka mendatangkan rekaman pita seluloid pertandingan dari negara tetangga untuk diputar di ruang publik atau aula hotel.
Untuk menikmati tayangan tersebut, pengunjung biasanya dikenakan biaya tiket masuk atau kewajiban memesan paket minuman. Konsep ini menjadi cetak biru pertama bagaimana sebuah pertandingan sepak bola dikemas menjadi komoditas hiburan bersama di ruang publik.
Memasuki era 1990-an, tradisi nobar mengalami ledakan besar seiring dengan kehadiran stasiun televisi swasta dan booming teknologi layar proyektor (layar tancap digital). Istilah "Nonton Bareng" atau "Nobar" pun resmi memasyarakat dan tidak lagi eksklusif di dalam ruangan tertutup, melainkan merambah ke pelataran parkir, kafe, hingga lapangan terbuka.
Kini, tradisi yang bermula dari ruangan rumah warga dan aula hotel puluhan tahun silam telah menjelma menjadi budaya kultural wajib. Nobar tidak hanya sekadar memuaskan dahaga para pencinta sepak bola, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kreatif di sektor UMKM setiap kali musim Piala Dunia tiba.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....