Nesya Mewakili Korwil Belajasumba dalam Lomba Tahfidz PTQ RRI 2026
- 23 Feb 2026 10:04 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Pekan Tilawatil Quran (PTQ) Radio Republik Indonesia (RRI) 2026 masih berlangsung. RRI Bandarlampung sebagai perwakilan Korwil XIV Belajasumba, mengirimkan Nesya Fitriatul Fadilah sebagai peserta untuk kategori lomba Tahfidz Putri. Lomba diselenggarakan pada Minggu, 22 Februari 2026 melalui ruang zoom di RRI Bandarlampung.
Nesya Fitriatul Fadilah atau yang kerap disapa Nesya adalah seorang penghafal Quran asal Desa Sidomulyo, Bangunrejo, Lampung Tengah. Sebelumnya ia sudah menorehkan prestasi gemilang di berbagai ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Ia tercatat pernah mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran Provinsi Lampung pada tahun 2021, 2022, 2023, dan 2025.
Selain itu, ia juga berpartisipasi dalam ajang MTQ Mahasiswa Nasional (MTQMN) yang digelar di Universitas Brawijaya. Keikutsertaannya di berbagai kompetisi tersebut membuahkan hasil membanggakan, di antaranya Juara 2 MHQ 20 Juz, Juara 1 MHQ 20 Juz, serta Juara 1 MHQ 30 Juz.
Ia mulai menghafal Al-Quran sejak duduk di kelas 6 Sekolah Dasar. Ia lulus dari MA Al-Mahfudziyah 207 dan Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Al-Mukhlish Kalidadi, Kalirejo, Lampung Tengah. Saat ini, Nesya aktif sebagai mahasiswa semester 6 di jurusan Farmasi Universitas Islam Indonesia dan menjadi santri di salah satu pondok pesantren di Yogyakarta.
Motivasi terbesarnya untuk menghafal Al-Quran lahir dari keinginan pribadi. Menurutnya, membaca adalah hobi yang sangat ia sukai, sehingga menghafal Al-Qur’an menjadi aktivitas yang selaras dengan minatnya. Kekagumannya terhadap para penghafal Al-Qur’an juga menjadi dorongan kuat untuk menjadi bagian dari penjaga Al-Quran.
Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah rasa malas. Selain itu, pada awal menjadi santri, ia kerap mengalami sakit hampir setiap dua minggu sekali, sehingga sempat menghambat proses hafalan. Namun, dengan tekad kuat dan semangat pantang menyerah, ia terus melanjutkan hafalannya hingga mencapai target.
Dalam proses menghafal, ia memiliki metode tersendiri. Di waktu Asar, ia sudah mulai membaca ayat yang akan dihafalkan dan setelah Maghrib, ia mulai menghafal per ayat secara fokus dengan mengulanginya hingga lancar. Jika sudah satu halaman, ia mencoba mengulang tanpa melihat mushaf agar hafalan semakin kuat.
Prinsipnya, sebelum tidur hafalan harus benar-benar matang karena hafalan tersebut harus disetorkan setelah salat Tahajud. Ia pun berpesan bahwa kunci utama dalam menghafal Al-Qur’an adalah meluruskan niat, menjaga disiplin waktu, serta konsisten dalam menambah dan menjaga hafalan.