Industri Olahraga Jadi Solusi Pembiayaan Prestasi Lampung

  • 18 Agt 2026 17:45 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung — Efisiensi anggaran yang turut berdampak pada pembinaan olahraga dinilai menjadi tantangan bagi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lampung. Namun, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Lampung, melainkan juga dirasakan sejumlah provinsi di Indonesia.

Akademisi sekaligus pengamat olahraga Lampung, Aditya Gumantan, mengatakan prestasi olahraga membutuhkan dukungan anggaran yang memadai. Menurutnya, pembinaan atlet tidak dapat berjalan optimal tanpa adanya “amunisi” untuk menunjang kebutuhan latihan dan pertandingan.

“Prestasi itu bersinergi dengan amunisi. Kalau atlet standar saja membutuhkan sekitar 3.000 sampai 3.500 kalori per hari, kalau asupan energinya tidak tercapai, latihan terus berjalan tetapi bahan bakarnya tidak ada,” ujar Aditya, kepada RRI, Selasa, 18 Agustus 2026.

Ia menilai kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong pengembangan industri olahraga. Ke depan, industri olahraga diharapkan mampu menjadi salah satu sumber pembiayaan sehingga beban anggaran pemerintah dalam mendukung prestasi olahraga dapat berkurang.

Aditya mencontohkan Jerman yang dinilai telah memiliki ekosistem industri olahraga yang kuat, sehingga pembiayaan olahraga tidak sepenuhnya bergantung pada pemerintah.

Namun, menurutnya, membangun industri olahraga membutuhkan proses dan menjadi pekerjaan rumah bersama. Pengembangan industri harus dilakukan secara bertahap dengan melibatkan pemerintah, pelaku usaha, organisasi olahraga, hingga masyarakat.

Aditya juga mengungkapkan, berdasarkan sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal internasional, biaya untuk membentuk seorang atlet hingga mencapai level juara Olimpiade dapat mencapai sekitar Rp80 miliar.

Biaya tersebut mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari fasilitas olahraga, konsumsi, program latihan, hingga pemulihan atlet.

“Nonsens kita bicara tentang prestasi tanpa adanya amunisi yang memadai. Kita juga tidak bisa terus-menerus menyalahkan pemerintah. Bagaimana kita bisa mandiri, salah satunya melalui industri olahraga,” katanya.

Menurut Aditya, tingginya minat masyarakat terhadap olahraga saat ini merupakan peluang yang harus dimanfaatkan. Olahraga tidak lagi sebatas aktivitas untuk menjaga kesehatan atau hobi, tetapi dapat dikembangkan menjadi sektor ekonomi yang mampu menopang pembinaan dan prestasi atlet.

Dengan demikian, penguatan industri olahraga dinilai menjadi salah satu strategi jangka panjang agar prestasi olahraga Lampung dapat terus berkembang tanpa sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....