Mengenal Sejarah Tari Zapin

  • 30 Sep 2025 12:24 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Bandar Lampung: Tari Zapin merupakan tarian tradisional yang cukup terkenal dikalangan masyarakat Melayu, dan tari zapin memiliki sejarah yang cukup panjang bagi masyarakat melayu.

Menilik dari situs resmi pemerintahan, tari zapin ini pada awalnya muncul di tahun 1811 silam, tetapi baru dipopulerkan pada tahun 1919 lalu. Mulanya, tarian ini tercipta sebagai sebuah tarian yang dipersembahkan secara khusus untuk masyarakat di lingkungan istana pada masa Kesultanan Yaman di Timur Tengah pada masa lampau.

Namun setelah itu, kebudayaan tari zapin semakin berkembang di wilayah lingkungan istana atau disebut juga sebagai daerah Great Tradition. Tarian ini pun bercampur dengan budaya lokal. Akhirnya, tarian zapin menjadi kesenian hiburan dan pertunjukan istana yang bahkan ditampilkan dalam acara seremonial kerajaan.

Untuk acara seremonial itu, tarian ini disebut sebagai zapin istana atau Siak Sri Inderapura. Tarian ini pun dikenal dan dibawa oleh para pedagang Arab dari wilayah Gujarat dalam perjalanan dagang rempahnya. Mereka juga menggunakan tarian ini sebagai media dakwah dalam penyebaran agama Islam di wilayah Kepulauan Riau.

Setibanya di Nusantara, tari tradisional dari Yaman ini akhirnya mengalami akulturasi dengan budaya lokal setempat. Ini tercermin jelas dari adanya dampak akibat akulturasi dua budaya yang berbeda. Dalam tarian zapin, terdapat berbagai penyisipan nilai filosofis yang erat kaitannya dengan pola kehidupan masyarakat Riau.

Selain itu, seperti tujuan awalnya untuk menjadi media dakwah, nilai pendidikan agama Islam pun terdapat dalam syair lagu yang dinyanyikan oleh para pengiring tarian zapin. Pada awalnya, tepatnya sebelum tahun 1960, tarian zapin hanya boleh dipentaskan atau ditarikan oleh penari laki-laki.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, saat ini tari zapin bisa ditampilkan oleh perempuan. Bahkan, tarian ini juga sudah bisa dipentaskan oleh penari campuran antara penari laki-laki dan penari perempuan dalam satu pementasan yang sama.

Sejalan dengan semakin dikenalnya tarian zapin, tari ini pun kemudian menyebar luas ke wilayah lain. Dalam pencampurannya dengan budaya lokal, maka lahirlah berbagai macam dan jenis variasi tarian zapin sesuai dengan budaya daerahnya masing-masing.

Meski mengalami percampuran budaya, namun pola dasar tarian ini tetap sama. Yakni tentang simbol dan makna penghormatan serta penghiburan yang disajikan untuk raja yang saat itu sedang bertahta.

Di Indonesia sendiri, terdapat dua jenis tarian zapin, yaitu zapin Melayu dan zapin Arab. Untuk zapin Arab, dikenal juga sebagai zapin lama yang tariannya tumbuh dan berkembang di dalam kelompok masyarakat berketurunan Arab. Kelompok ini berada di berbagai tempat di wilayah Indonesia, terutama di Jawa dan Madura.

Sementara itu, zapin Melayu adalah adalah tarian yang dibentuk oleh para ahli di suatu wilayah yang kemudian disesuaikan tarianya dengan lingkungan masyarakat sekitar. Yang membedakan dari zapin Melayu dan zapin Arab adalah gerak tariannya. Jika zapin Arab hanya memiliki satu gaya tarian saja, maka zapin melayu memiliki gaya tarian yang cukup beragam.

Selain itu, kedua tarian ini juga dibagi lagi kedalam dua jenis tari. Pada tarian Zapin Arab terdapat zapin hajir marawis dan zapin gembus. Sementara itu, untuk zapin Melayu dikelompokkan menjadi zapin Melayu Keraton dan zapin Melayu rakyat.

Pada zapin Melayu keraton, tarian ini hanya dipersembahkan bagi kalangan istana saja. Dikarenakan berada di kawasan istana, maka zapin Melayu ini juga diberikan beberapa aturan yang disesuaikan dengan peraturan di istana. Sedangkan, zapin Melayu rakyat berkembang di masyarakat dengan kebebasan namun tetap dalam sopan santun serta adat istiadat setempat.

Kedua jenis tarian zapin ini pun menjadi warisan Nusantara yang memperkaya budaya bangsa Indonesia. Di sisi lain, tarian ini juga menjadi bagian dari kekuatan serta kesatuan bangsa agar tak mudah dipecah belah oleh negara lain.

Tarian zapin dalam setiap daerah dikenal dengan nama yang berbeda. Seperti di wilayah Jambi dan Bengkulu, tarian ini dikenal sebagai Dana, di wilayah Lampung tarian zapin disebut Bedana, dan di wilayah Jawa tarian ini dikenal dengan tari Zafin. Sedikit berbeda, wilayah Kalimantan mengenal tarian ini dengan nama Jeping, Maluku menamainya dengan Jepen, dan Nusa Tenggara dikenal dengan nama Dana-Dani.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....