Viral di Media Sosial, ternyata Ini Asal Usul Ayam Basah
- 29 Sep 2026 19:54 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung : Ayam goreng basah belakangan ramai diperbincangkan pencinta kuliner. Di balik namanya yang terdengar sederhana, makanan ini ternyata merupakan bagian dari tradisi kuliner Sunda dan dikenal sebagai salah satu sajian khas Bandung, Jawa Barat.
Berbeda dengan ayam goreng pada umumnya yang dimasak hingga kulitnya kering dan renyah, ayam goreng basah justru mempertahankan tekstur yang lembut dan berair. Ayam terlebih dahulu diungkep menggunakan bumbu kuning, kemudian digoreng sebentar dalam minyak panas.
Teknik tersebut membuat permukaan ayam tidak menjadi kering. Bumbu yang menempel dan meresap ke dalam daging tetap terasa ketika ayam disajikan.
Berasal dari Tradisi Kuliner Sunda
Ayam goreng basah dikenal sebagai salah satu olahan ayam khas Jawa Barat. Sejumlah sumber kuliner menyebut sajian ini sebagai ayam goreng khas Sunda dengan karakteristik warna kekuningan, bumbu yang meresap, serta tekstur daging yang lembut.
Salah satu contoh usaha kuliner yang telah lama menyajikan ayam goreng basah adalah Rumah Makan Ciganea di Purwakarta. Menu tersebut disebut telah menjadi andalan rumah makan yang berdiri sejak 1981.
Pemilik Rumah Makan Ciganea, H Dadang Sukmarasa, menjelaskan ayam goreng basah dimasak dengan suhu penggorengan yang tidak terlalu tinggi dan tidak dalam waktu lama. Cara tersebut membuat ayam tetap terlihat basah ketika disajikan.
Menurut Dadang, resep ayam goreng basah di rumah makannya merupakan resep keluarga yang diwariskan pendiri Rumah Makan Ciganea. Bumbu yang digunakan antara lain kunyit, ketumbar, bawang dan sejumlah bumbu lainnya.
Mengapa Disebut Ayam Basah?
Istilah “basah” tidak berarti ayam tersebut belum matang atau mengandung banyak air.
Sebutan itu lebih berkaitan dengan karakter hasil akhirnya. Setelah melalui proses ungkep, ayam hanya digoreng sebentar sehingga kulitnya tidak menjadi kering dan renyah seperti ayam goreng pada umumnya.
Dalam penyajiannya, bumbu yang masih melekat pada ayam memberikan tampilan basah. Teksturnya juga cenderung lembut dan juicy.
Proses tersebut menjadi pembeda utama ayam goreng basah dengan ayam goreng kering.
Ayam yang digunakan dapat berupa ayam kampung maupun ayam jantan. Setelah dipotong, ayam dimasak bersama bumbu seperti kunyit, bawang merah, bawang putih, ketumbar, jahe, lengkuas, serai dan daun salam hingga bumbu meresap dan daging menjadi empuk.
Jukut Goreng dan Sambal Jadi Pelengkap
Dalam tradisi penyajiannya, ayam goreng basah khas Bandung tidak hanya mengandalkan ayam.
Sajian ini kerap disandingkan dengan nasi hangat, lalapan, sambal dan jukut goreng. Jukut dalam konteks kuliner Sunda merujuk pada sayuran. Jukut goreng memberikan tekstur renyah sebagai pendamping ayam yang lembut.
Sementara sambal memberikan rasa pedas dan segar yang melengkapi gurihnya ayam berbumbu kuning.
Kombinasi tersebut juga terlihat pada sejumlah usaha kuliner yang kini membawa ayam goreng basah khas Bandung ke luar daerah asalnya.
Dari Bandung Menyebar ke Berbagai Kota
Popularitas ayam goreng basah kemudian berkembang ke luar Jawa Barat. Sejumlah pelaku usaha kuliner membawa konsep ayam basah khas Bandung ke Jakarta dan kawasan sekitarnya.
Salah satunya Ayam Goreng Bu Iyin yang didirikan oleh food vlogger asal Bandung, Novianty Pratiwi atau Inop. Dalam kisah yang dipublikasikan di situs resminya, Inop menyebut ayam goreng basah sebagai salah satu makanan Bandung yang dirindukannya ketika berada di Jakarta.
Pada 2026, popularitas ayam goreng basah semakin terlihat setelah sejumlah usaha kuliner dengan konsep serupa bermunculan dan mendapat perhatian pencinta makanan di media sosial. DetikFood, misalnya, mencatat ayam goreng basah Bandung menjadi salah satu menu yang ramai dicari foodies.
Bukan Kuliner Baru
Meski baru ramai di media sosial, ayam goreng basah bukan makanan yang baru muncul.
Popularitasnya di media sosial lebih tepat disebut sebagai gelombang popularitas baru terhadap kuliner lama. Makanan tersebut telah menjadi bagian dari kuliner Sunda dan selama bertahun-tahun dapat ditemui di sejumlah rumah makan di Jawa Barat.
Rumah Makan Ciganea di Purwakarta, misalnya, telah menjadikan ayam goreng basah sebagai menu andalan sejak awal berdirinya pada 1981. Fakta tersebut menunjukkan bahwa hidangan dengan karakter ayam yang tidak digoreng hingga kering sudah lama dikenal di Jawa Barat.
Dengan demikian, ketika ayam basah kembali viral di media sosial, yang menjadi perhatian bukanlah kemunculan makanan baru, melainkan semakin luasnya pengenalan masyarakat terhadap salah satu kuliner khas Sunda.
Dari Bandung untuk Indonesia
Ayam goreng basah memperlihatkan bagaimana makanan tradisional dapat kembali mendapatkan perhatian melalui perkembangan media sosial dan tren kuliner.
Ciri utamanya tetap sama, yakni ayam yang diungkep dengan bumbu hingga meresap, kemudian digoreng sebentar agar tidak kering.
Bandung, Jawa Barat, menjadi daerah yang paling kuat dikaitkan dengan sajian ayam goreng basah tersebut. Dari daerah asalnya, makanan ini kemudian dibawa ke berbagai kota dan dikemas dengan konsep yang lebih modern.
Popularitas yang terjadi saat ini menjadi bagian dari perjalanan kuliner tradisional Sunda dalam menjangkau konsumen yang lebih luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....