Es Yahut, Kesegaran Legendaris yang Bertahan Puluhan Tahun
- 31 Agt 2026 14:53 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- Suparman telah menjalankan usaha penjualan es keliling di Teluk Betung, Bandarlampung selama lebih dari dua dekade sejak tahun 1999.
- Meskipun telah berlalu lebih dari 20 tahun, Suparman tetap konsisten dengan rute penjualannya dan tidak banyak mengubah sistem berdagang.
- Gerobak es Suparman menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari warga Teluk Betung dan simbol ketahanan ekonomi informal.
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Di tengah hiruk-pikuk kawasan Teluk Betung, Bandarlampung suara pedagang es keliling masih menjadi bagian dari keseharian warga. Salah satunya Suparman, pedangan Es Yahut yang telah menjajakan es sejak 1999. Lebih dari dua dekade berlalu, gerobak esnya tetap menemani langkah dan rutinitasnya mencari rezeki.
Suparman mengaku tidak banyak mengubah rute berjualannya sejak pertama kali memulai usaha. Setiap hari ia berkeliling menawarkan es kepada warga di kawasan Teluk Betung.
“Sudah tahun 1999,” ujar Suparman saat ditemui di Teluk Betung, Senin, 31 Agustus 2026.
Puluhan tahun berjualan tentu tidak selalu berjalan mulus. Bagi Suparman, hujan menjadi tantangan utama karena membuat aktivitas berjualan es keliling lebih sulit. “Ya kalau hujan aja tantangannya,” katanya singkat.
Meski menghadapi berbagai kondisi, Suparman tetap mempertahankan usaha yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Harga es yang ditawarkan juga masih relatif terjangkau, mulai dari Rp5.000. Pilihan rasanya beragam, mulai dari durian, cokelat, bukat, nangka, kacang hijau, sirsak, hingga stroberi.
Varian rasa tersebut tidak selalu tersedia dalam waktu bersamaan. Suparman menyesuaikan pilihan rasa yang dijual pada hari tertentu. Harga yang terjangkau membuat es buatannya tetap menjadi pilihan bagi warga yang ingin menikmati minuman manis dan menyegarkan.
Bagi warga Bandar Lampung yang penasaran ingin mencicipi es dagangan Suparman, ia mempersilakan datang langsung ke kawasan tempatnya biasa berjualan.
“Kalau mau nyoba bisa langsung ke sini,” ujarnya. Ia biasa berjualan di kawasan Teluk Betung, tepatnya di sekitar toko Aneka Sari Rasa atau yang biasa dikenal Yen Yen.
Ketekunan Suparman selama lebih dari dua puluh tahun menjadi cerita sederhana tentang bagaimana sebuah pekerjaan dapat bertahan melewati perubahan zaman. Dari satu sudut Teluk Betung, ia terus mendorong gerobaknya, menawarkan es kepada warga, dan menjalani hari demi hari. Es seharga Rp5.000 itu bukan sekadar dagangan, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan hidup Suparman sejak 1999.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....