Menelusuri Jejak Kriuk: Bagaimana Gorengan Menjadi Camilan Nasional Indonesia
- 18 Mei 2026 08:44 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Siapa yang bisa menolak aroma gurih bakwan yang baru diangkat dari wajan, atau renyahnya tempe mendoan hangat di kala hujan? Bagi masyarakat Indonesia, gorengan bukan sekadar makanan ringan. Ia adalah bagian dari kultur, teman setia minum kopi, hingga penyelamat perut lapar di kala tanggung.
Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, sejak kapan masyarakat Nusantara mulai gemar menggoreng makanan?
Jejak Akulturasi: Pengaruh Kuliner Tionghoa
Secara historis, teknik memasak dengan minyak banyak atau deep frying bukanlah teknik asli masyarakat Nusantara purba. Pada masa kuno, masyarakat di kepulauan ini lebih familier dengan cara mengolah makanan yang direbus, dikukus, dibakar, atau dipanggang.
Catatan Sejarah: Berdasarkan buku “Nusa Jawa: Silang Budaya” (Volume 2: Jaringan Asia) karya Denys Lombard. Buku ini mengupas tuntas bagaimana teknologi memasak seperti penggunaan wajan (wok) dan teknik menggoreng dibawa oleh imigran Tionghoa ke Nusantara. Jejak gorengan di Indonesia sangat erat kaitannya dengan kedatangan para imigran dari Tionghoa berabad-abad lalu.
Merekalah yang mengenalkan wajan cekung (kuali atau wok) serta teknik menumis (stir-frying) dan menggoreng dengan minyak nabati (terutama minyak kelapa). Salah satu bukti nyata akulturasi ini bisa kita lihat dari penamaan gorengan populer kita:
Bakwan: Berasal dari kata Bak (daging) dan Wan (bola). Awalnya merupakan bola daging, namun bertransformasi di Indonesia menjadi adonan tepung dan sayuran karena bahan yang lebih ekonomis.
Lumpia: Berasal dari dialek Hokkien (Lún-piáⁿ), camilan khas Semarang yang mengawinkan rebung dengan bumbu lokal.
Tahu Goreng: Tahu sendiri (doufu) dibawa oleh imigran Tionghoa dan menjadi salah satu sumber protein paling populer yang sangat cocok digoreng.
Booming Kelapa Sawit di Era Modern
Meskipun teknik menggoreng sudah dikenal sejak masa kerajaan dan kolonial, gorengan tidak langsung menjadi konsumsi massal harian seperti sekarang. Hambatan utamanya saat itu adalah harga dan ketersediaan minyak goreng. Dahulu, masyarakat menggunakan minyak kelapa yang proses pembuatannya cukup memakan waktu.
Titik balik gorengan menjadi "camilan sejuta umat" terjadi pada era 1970-an hingga 1980-an. Pada masa ini, industri kelapa sawit di Indonesia mengalami ekspansi besar-besaran.
Minyak goreng sawit yang diproduksi secara massal membuat harganya menjadi sangat murah dan mudah didapatkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Sejak saat itu, gerobak-gerobak gorengan mulai menjamur di pinggir jalan kota besar hingga pelosok desa.
Evolusi Ragam Gorengan di Nusantara
Dari teknik dasar tersebut, kreativitas lokal masyarakat Indonesia melahirkan variasi gorengan yang tak terbatas. Setiap daerah bahkan memiliki jagoannya masing-masing
Jenis GorenganCiri Khas / AsalTempe MendoanBanyumas; digoreng setengah matang, menyisakan tekstur lembut dan kenyal.Pisang GorengMenggunakan pisang kepok/raja, diadopsi juga dari pengaruh kuliner Portugis yang gemar menggoreng buah.CirengJawa Barat; inovasi berbahan dasar tepung kanji/aci yang digoreng.Onde-OndePengaruh Tionghoa kuno yang dilapisi wijen dengan isian kacang hijau.
Lebih dari Sekadar Makanan
Hari ini, gorengan telah naik kelas. Ia tidak hanya ditemukan di gerobak kaki lima, tetapi juga di kafe estetis hingga hotel berbintang dengan sentuhan modern seperti tahu cabai garam atau pisang goreng brown sugar.
Meski sering mendapat "rapor merah" dari segi kesehatan karena kandungan kolesterol dan lemak transnya, gorengan tetap memiliki tempat spesial di hati masyarakat. Ia adalah simbol kebersamaan—sajian yang menyatukan obrolan di pos ronda hingga rapat kantor formal. Pada akhirnya, sejarah gorengan adalah sejarah tentang bagaimana Indonesia menerima pengaruh asing, meramunya dengan kearifan lokal, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang sangat akrab di lidah kita.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....