Minazuki, Kue Simbolis Jepang di Musim Panas

  • 09 Jun 2025 10:07 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Bandar Lampung: Saat musim panas mulai menyapa Jepang, satu kudapan manis tradisional yang selalu hadir setiap bulan Juni adalah Minazuki. Kue khas Kyoto ini bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol budaya yang sarat makna, menandai pergantian musim dan tradisi penyucian diri dalam masyarakat Jepang.

Minazuki, yang secara harfiah berarti “bulan tanpa air”, adalah nama bulan keenam dalam kalender lunar Jepang. Meski disebut tanpa air, bulan ini sebenarnya identik dengan datangnya musim hujan dan sekaligus menjadi awal dari musim panas. Dalam konteks kuliner, Minazuki juga merujuk pada kue berbentuk segitiga berwarna putih transparan yang dihiasi kacang azuki merah di atasnya.

Minazuki

biasanya disantap pada tanggal 30 Juni, bertepatan dengan upacara tradisional Jepang bernama Nagoshi no Harae, yaitu ritual penyucian diri dari dosa dan penyakit selama setengah tahun terakhir. Kacang azuki merah dipercaya secara spiritual mampu menangkal roh jahat dan membawa keberuntungan.

Minazuki bukan hanya makanan ringan, tapi juga simbol harapan untuk kesehatan dan keselamatan menyambut paruh kedua tahun ini,” jelas Hiroko Tanaka, peneliti budaya kuliner Jepang di Kyoto.

Minazuki terbuat dari bahan dasar uchigoori (sejenis mochi dari tepung beras dan gula) yang dikukus hingga menghasilkan tekstur kenyal dan lembut. Di bagian atasnya ditaburkan kacang azuki rebus yang memberikan rasa manis alami dan tekstur kontras.

Kue ini tidak terlalu manis dan memiliki sensasi dingin yang menyegarkan, cocok disantap di tengah suhu musim panas yang lembap. Banyak toko wagashi (kue tradisional Jepang) menyajikan Minazuki dalam versi dingin atau beku agar lebih nikmat.

Karena berkaitan erat dengan ritual akhir Juni, Minazuki umumnya hanya tersedia selama beberapa minggu menjelang dan setelah tanggal 30 Juni. Banyak masyarakat Jepang, khususnya di Kyoto, yang berburu Minazuki setiap tahun sebagai bagian dari tradisi keluarga.

Minazuki bukan hanya menggugah selera, tetapi juga menyimpan filosofi tentang penyucian, perlindungan, dan perayaan pergantian musim. Sebuah camilan kecil yang mengajarkan makna besar tentang waktu dan harapan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....