Jajanan Tradisional Mulai Dilupakan, Warisan Rasa Tergerus Zaman
- 28 Mei 2025 09:12 WIB
- Bandar Lampung
KBRN, Bandar Lampung: Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan kuliner, termasuk jajanan tradisional yang beragam dari Sabang hingga Merauke. Namun, seiring perkembangan zaman dan maraknya makanan instan serta camilan modern, banyak jajanan tradisional perlahan mulai dilupakan, terutama oleh generasi muda.
Beberapa jajanan khas yang dulu akrab di lidah anak-anak sekolah dan masyarakat desa kini semakin jarang terlihat, bahkan nyaris punah. Padahal, selain rasanya yang unik, jajanan tradisional juga menyimpan nilai budaya dan sejarah yang kuat.
Berikut beberapa contoh jajanan tradisional Indonesia yang mulai sulit ditemukan:
1. Kue Rangi (Betawi)
Terbuat dari campuran kelapa parut dan tepung sagu, lalu dibakar di atas cetakan khusus dan disiram gula merah kental. Kue ini dulu banyak dijajakan di kampung-kampung Jakarta, namun kini makin jarang terlihat.
2. Clorot (Jawa Tengah)
Jajanan manis berbentuk kerucut yang dibungkus daun kelapa muda dan berisi adonan gula merah dan tepung beras ini kini hanya bisa ditemukan di pasar tradisional tertentu.
3. Kue Putu Mayang (Betawi dan Jawa)
Kue berwarna-warni dari tepung beras yang dibentuk seperti mi dan disajikan dengan kuah santan manis. Kini, popularitasnya kalah oleh jajanan kekinian berbasis keju dan cokelat.
4. Gemblong (Jawa Barat)
Terbuat dari ketan yang digoreng dan dilapisi gula merah cair, gemblong kini jarang ditemukan di kota besar, padahal dulunya banyak dijajakan keliling oleh penjual kaki lima.
5. Jipang (berbagai daerah)
Makanan ringan dari beras ketan yang dipadatkan dan diberi lapisan gula ini dulu populer di kalangan anak-anak, namun kini tergeser oleh camilan kemasan modern.
Beberapa faktor penyebab jajanan tradisional mulai dilupakan antara lain:
1. Kurangnya regenerasi pembuat: Banyak pembuat jajanan tradisional adalah orang tua, dan belum banyak generasi muda yang meneruskan.
2. Minimnya promosi dan inovasi: Cita rasa yang tidak berubah dan tampilan yang kurang menarik membuat jajanan tradisional kalah saing dengan makanan kekinian.
3. Perubahan gaya hidup: Konsumen kini lebih memilih camilan praktis dan instan yang tersedia di supermarket dan ojek online.
Agar jajanan tradisional tidak benar-benar hilang, beberapa upaya pelestarian perlu digalakkan:
1. Pendidikan kuliner di sekolah dan komunitas untuk mengenalkan kembali ragam jajanan lokal.
2. Festival makanan tradisional secara rutin di kota-kota besar.
3. Dukungan dari pemerintah dan UMKM untuk pengemasan dan pemasaran yang lebih modern.
4. Digitalisasi resep dan promosi di media sosial, agar generasi muda lebih tertarik mencoba dan membuat sendiri.
Jajanan tradisional adalah bagian dari identitas budaya bangsa. Jika tidak dilestarikan, bukan hanya makanan yang hilang, tetapi juga cerita, sejarah, dan rasa yang membentuk jati diri kuliner Indonesia. Sudah saatnya kita kembali menghargai dan menghidupkan kembali jajanan-jajanan warisan leluhur ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....