Buah Ciplukan, Tanaman Liar Kini Dibudidayakan Karena Manfaatnya
- 03 Agt 2024 10:08 WIB
- Bandar Lampung
Buah ciplukan atau golden berry memiliki nama latin Physalis angulata L., adalah tanaman liar yang tumbuh di area persawahan dan kebun warga. Meskipun terlihat sepele, buah ciplukan kini memiliki nilai ekonomi yang tinggi, mencapai Rp.100.000,- per kilogram, karena berbagai manfaat kesehatannya.
Tanaman ciplukan bukan asli dari Indonesia, melainkan berasal dari negara tropis di Amerika. Tumbuhan ini kemudian menyebar ke berbagai kawasan di Amerika, Pasifik, Australia, dan Asia, dan dapat tumbuh subur di dataran rendah dengan kondisi tanah yang agak lembab.
Di Indonesia, buah ciplukan yang berbentuk seperti tomat kecil dengan rasa asam-manis ini dikenal dengan berbagai nama di setiap daerah. Di Sunda disebut cecenet, di Madura nyornyoran, dan di Bali dikenal sebagai keceplokan.
Menurut Jurnal Universitas Airlangga yang dipublikasikan pada tahun 2021 oleh Tuti Kusumaningsih, dkk, buah ciplukan memiliki berbagai manfaat kesehatan yang penting. Ciplukan mengandung antioksidan yang tinggi, yang bermanfaat untuk menetralkan radikal bebas dan melindungi tubuh dari berbagai penyakit.
Di lembah Amazon, ciplukan digunakan sebagai obat penenang dan anti-rematik, sementara di Taiwan, buah ini dipakai untuk mengobati diabetes, hepatitis, asma, dan malaria.
Buah ciplukan juga memiliki sifat anti-inflamasi, yang dapat mengurangi nyeri akibat radang sendi, asam urat, nyeri otot, hingga wasir. Penelitian bahkan menunjukkan bahwa buah ini dapat membantu mengatasi rasa nyeri yang disebabkan oleh penyakit lupus, menjadikannya suplemen alami yang berkhasiat.
Selain itu, ciplukan juga bermanfaat bagi mereka yang ingin mengontrol berat badan. Dengan hanya 53 kalori per 100 gram, buah ini rendah kalori dan bisa menjadi camilan sehat yang membantu mengurangi berat badan jika dikonsumsi secara rutin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....