Kesehatan Mental Kesejahteraan yang Sering Terlupakan, Kunci Hidup yang Bermakna
- 07 Sep 2026 09:10 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID Bandar Lampung - Kesehatan mental mencakup cara kita berpikir, merasakan, dan bertindak dalam menghadapi kehidupan. Ia memengaruhi cara kita menangani stres, berhubungan dengan orang lain, dan mengambil keputusan mulai dari masa kanak-kanak, remaja, hingga sampai ke usia lanjut. Kondisi ini tidak bersifat tetap, bisa berubah seiring berjalannya waktu, tergantung pada keadaan dan peristiwa yang kita alami.
Dikutip dari laman Kemenkes.go.id, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan jiwa dengan mengenali tanda-tanda gangguan jiwa sejak dini dan tidak ragu mencari pertolongan. Gangguan jiwa dapat dialami siapa saja, tanpa mengenal usia, jenis kelamin, maupun status ekonomi.
Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono mengatakan, kesehatan jiwa kerap tidak terlihat secara kasat mata sehingga banyak orang yang mengalami masalah kejiwaan tidak segera mendapatkan pertolongan.
Berbagai faktor bisa memengaruhi kesehatan mental seseorang, antara lain:
- Faktor biologis: genetika, keseimbangan zat kimia di otak
- Pengalaman hidup: tekanan berat, trauma, atau peristiwa menyakitkan
- Riwayat kesehatan mental dalam keluarga
- Kondisi lingkungan: dukungan keluarga dan masyarakat, kondisi ekonomi, serta akses terhadap pelayanan kesehatan
- Merasa sedih, cemas, atau putus asa dalam waktu lama dan tidak kunjung membaik
- Menarik diri dari lingkungan, menjauh dari orang-orang yang biasa disayang
- Kehilangan minat pada hal yang dulunya disukai
- Sulit tidur atau tidur terus-menerus, hilang nafsu makan atau makan berlebihan
- Merasa bingung, mudah marah, atau sangat sensitif terhadap ucapan orang lain
- Mengalami sakit fisik yang tidak ditemukan penyebab medisnya
- Memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau mengakhiri hidup
- Jaga keseimbangan tubuh dan pikiran — Tidur cukup, makan makanan bergizi, dan bergerak secara rutin. Olahraga tidak hanya menyehatkan badan, tetapi juga melepaskan zat yang membuat perasaan menjadi lebih tenang dan bahagia.
- Berani berbagi cerita — Ceritakan apa yang dirasakan kepada orang yang Anda percaya. Menyimpan semuanya sendirian hanya akan membuat beban semakin berat.
- Berhenti membandingkan diri dengan orang lain — Setiap orang memiliki perjalanan dan waktunya masing-masing. Apa yang terlihat indah di luar belum tentu sama dengan kenyataan di dalamnya.
- Beristirahatlah dengan tenang — Izinkan diri Anda berhenti sejenak, tidak harus selalu sibuk atau produktif. Meluangkan waktu untuk diri sendiri adalah hak yang wajar.
- Berani meminta bantuan — Jika perasaan berat tidak hilang meski sudah berusaha menenangkan diri, datanglah ke psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang berwenang. Mencari bantuan adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....