Tidur Lama atau Deep Sleep, Mana Lebih Baik?

  • 10 Agt 2026 07:39 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Tren mengukur kualitas tidur melalui fitur deep sleep pada perangkat pintar semakin populer. Namun, mengejar durasi deep sleep lebih lama dengan mengorbankan total waktu tidur justru tidak dianjurkan.

Edukator sekaligus pelatih tidur, Vishal Dasani, mengatakan tidur yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh lamanya seseorang berada dalam fase deep sleep. Menurutnya, tubuh membutuhkan rangkaian siklus tidur secara utuh, mulai dari light sleep, deep sleep, hingga Rapid Eye Movement atau REM sleep.

Melalui akun instagram resmi @vishal.dasani, ia mencontohkan, jika harus memilih antara tidur selama delapan jam dengan satu jam deep sleep atau tidur lima jam dengan dua jam deep sleep, ia lebih memilih tidur selama delapan jam.

“Tubuh kita membutuhkan satu paket tidur yang lengkap. Ada light sleep, deep sleep, dan REM sleep. Masing-masing memiliki porsi dan fungsi yang berbeda, tetapi saling melengkapi,” ujar Vishal.

Ia menjelaskan, deep sleep memang berperan penting dalam pemulihan fisik dan regenerasi sel. Namun, REM sleep juga dibutuhkan untuk mendukung fungsi otak, termasuk memori, proses belajar dan kestabilan emosi.

Siklus tidur juga berlangsung secara bertahap sepanjang malam. Fase deep sleep umumnya lebih banyak muncul pada awal malam, sementara REM sleep memiliki durasi lebih panjang menjelang pagi.

Karena itu, memangkas waktu tidur menjadi hanya lima jam meski menghasilkan catatan deep sleep yang tinggi tetap dapat membuat seseorang kehilangan sebagian fase REM sleep. Kondisi tersebut berpotensi berdampak pada konsentrasi, daya ingat hingga kestabilan emosi saat menjalani aktivitas pada siang hari.

Vishal juga mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu terpaku pada angka yang ditampilkan perangkat pemantau tidur. Kebiasaan mengejar skor tidur tertentu justru dapat memicu kecemasan atau orthosomnia.

Menurutnya, tujuan utama tidur bukan mendapatkan skor deep sleep setinggi mungkin, melainkan memperoleh durasi yang cukup dengan siklus tidur yang lengkap.

“Tidur itu bukan kompetisi untuk mendapatkan deep sleep sebanyak-banyaknya. Yang kita cari adalah durasi yang cukup, siklus yang lengkap, dan saat bangun tubuh serta pikiran benar-benar pulih,” katanya.

Ia menambahkan, konsistensi waktu tidur setiap hari juga perlu menjadi perhatian. Masyarakat disarankan tidak mengorbankan keseluruhan waktu tidur hanya demi mengejar satu fase tertentu. Dengan demikian, kualitas tidur sebaiknya dinilai secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan durasi deep sleep yang tercatat pada perangkat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....