Menkes Bongkar Hasil Lab: Tiga Potong Martabak Manis Lewati Batas Lemak Harian!
- 29 Jun 2026 19:45 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung : Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kembali mengejutkan publik dengan membawa sejumlah jajanan favorit masyarakat ke laboratorium. Langkah ini dilakukan untuk membongkar kandungan lemak jenuh dan lemak trans tersembunyi yang berisiko tinggi memicu serangan jantung mendadak.
Berdasarkan hasil uji laboratorium yang dibagikan melalui akun media sosial pribadinya, Menkes mengingatkan bahwa batas aman konsumsi lemak jenuh harian manusia hanyalah 20 gram. Namun, realitas pada beberapa camilan populer harian justru menunjukkan angka yang sangat meresahkan.
"Hati-hati dengan apa yang sering kalian cemilin! Hari ini saya mengecek kadar lemak jajanan favorit kalian, dan hasilnya sangat meresahkan. Batas konsumsi lemak jenuh harian kita adalah 20 gram, tapi mari kita lihat realitanya," tulis Menkes dalam unggahan akun @bgsadikin.
Berikut adalah rincian hasil uji laboratorium terhadap tiga jajanan yang paling sering dikonsumsi masyarakat:
- Gorengan: Lima biji gorengan pinggir jalan ternyata mengandung hingga 17 gram lemak jenuh. Penyebab utamanya adalah penggunaan minyak curah yang dipanaskan secara berulang-ulang. "Lemak trans itulah yang masuk ke pembuluh darah dan naikkan LDL. Tentu saja, makanan ini masuk Nutri-Level D," jelas Menkes dalam unggahannya.
- Telur Gulung: Jajanan legendaris ini terbukti mengandung lemak jenuh tembus hingga 15 gram per porsi. Tingginya angka ini dipicu oleh genangan minyak yang kerap ikut terbawa ke dalam wadah plastik kemasan saat disajikan. "Makan sebungkus telor gulung, udah harus kukus semua makanan kita di jam berikutnya berarti! Jajanan ini juga dapat D," tambah Budi Gunadi.
- Martabak Manis: Hidangan penutup ini menjadi yang tertinggi dan paling berbahaya, dengan kandungan 9 gram lemak jenuh per satu potong. Menkes mengingatkan, "Makan 3 aja udah bahaya!! Masalahnya, pasti gabisa cuman 1 aja kan makannya? Hobi makan ini, hati-hati serangan jantung mendadak nantinya." Ujar nya unggahan di akun @bgsadikin
Menkes menegaskan bahwa sistem pelabelan 'Nutri-Level' diciptakan bukan hanya untuk mengukur kadar gula, melainkan juga untuk memantau kandungan garam dan lemak pada makanan.
Melalui edukasi ini, Kemenkes tidak melarang masyarakat untuk mengonsumsi jajanan tersebut, melainkan mengimbau agar masyarakat lebih sadar, tahu apa yang masuk ke dalam tubuh mereka, dan mulai membatasi porsinya demi kesehatan jantung jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....