Pengertian, Penyebab, Stunting pada Anak yang perlu diwaspadai

  • 11 Mei 2026 15:42 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dalam waktu yang cukup lama. Secara medis, anak dikatakan mengalami stunting jika tinggi badannya lebih pendek dibandingkan standar ukuran tinggi badan anak seusianya menurut ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi ini bukan sekadar masalah fisik berbadan pendek, melainkan tanda bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak terganggu secara serius.

Penyebab utama stunting adalah kekurangan asupan gizi yang terjadi sejak masa kehamilan, masa bayi, hingga usia dua tahun (periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan). Beberapa faktor pemicunya antara lain:

  • Gizi ibu kurang baik: Jika ibu hamil kekurangan gizi, janin yang dikandungnya tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup untuk tumbuh dan berkembang sempurna.
  • Pemberian makanan yang tidak tepat: Kurangnya asupan gizi, protein, vitamin, dan mineral pada anak setelah lahir, atau pemberian makanan pendamping ASI yang tidak sesuai aturan dan kualitasnya buruk.
  • Penyakit infeksi berulang: Lingkungan yang tidak bersih, akses air bersih yang sulit, dan sanitasi buruk membuat anak sering terkena penyakit seperti diare, infeksi saluran pernapasan, atau cacingan. Penyakit ini membuat nutrisi yang masuk ke tubuh anak terbuang sia-sia.
  • Kurangnya pengetahuan orang tua: Banyak orang tua belum paham pola asuh yang benar, cara memberikan gizi seimbang, maupun pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin.

    Dikutip dari laman Kemenkes.go.id, ada tiga komponen utama saling mengunci dan harus berjalan bersama. Bila satu komponen lemah, hasil akhirnya sering tidak maksimal, meski komponen lain sudah kuat.

  • Komponen pertama adalah deteksi dini berbasis data. Pemantauan status gizi ibu hamil, berat badan lahir, dan perkembangan antropometri bayi bukan lagi formalitas administrasi. Ia adalah radar biologis yang menangkap deviasi sejak awal. Ketepatan waktu deteksi sering lebih menentukan daripada besarnya intervensi, karena perbaikan paling efektif terjadi sebelum defisit menjadi kronis. Di sinilah sistem pencatatan yang rapi dan pemantauan yang rutin berubah menjadi alat klinis yang nyata.

  • Komponen kedua adalah intervensi personalisasi untuk ibu dan anak. Fokus utamanya adalah kecukupan protein hewani berkualitas—telur, ikan, daging, susu—karena ia membawa asam amino esensial dan faktor pertumbuhan yang relevan untuk jaringan yang sedang dibangun. Koreksi defisiensi mikronutrien spesifik seperti zat besi, zinc, dan vitamin A menjadi kunci, karena “kekurangan tersembunyi” sering menghambat pertumbuhan meski kalori tampak cukup. Personalisasi juga berarti konseling perilaku makan yang realistis, sesuai konteks keluarga. Ketersediaan pangan, budaya, pola kerja orang tua, sampai kebiasaan belanja rumah tangga harus masuk dalam desain intervensi, bukan diperlakukan sebagai catatan kaki.

  • Komponen ketiga adalah tata laksana holistik terintegrasi. Gizi tidak bisa menang sendirian bila lingkungan terus menularkan infeksi. Program WASH—air bersih, sanitasi, dan higiene—adalah bagian biologis dari strategi, karena infeksi berulang menguras nutrisi dan mengganggu penyerapan. Kunjungan rumah, layanan primer yang kolaboratif, dan edukasi yang diulang menjadi satu paket untuk memastikan intervensi benar-benar terjadi, bukan hanya tertulis. Dalam kerangka presisi, audit ekuitas wajib melekat, agar pendekatan berbasis data tidak berubah menjadi layanan eksklusif. Presisi yang sehat adalah presisi yang inklusif, yang membuat anak paling rentan justru paling cepat terlihat dan paling dulu dibantu.

Stunting sering direduksi menjadi angka di kartu menuju sehat, padahal ia adalah sinyal biologis yang jauh lebih dalam. Definisinya jelas, yaitu tinggi badan menurut umur (HAZ < -2 SD standar WHO), tetapi maknanya melampaui antropometri. Stunting adalah jejak dari kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang terjadi pada fase kehidupan yang paling menentukan. Ia meninggalkan dampak panjang yang tidak selalu terlihat hari ini, namun terasa bertahun-tahun kemudian.

Ketika pertumbuhan linier terganggu, yang terdampak bukan hanya tulang dan otot. Perkembangan otak ikut tertekan, terutama pada fase pembentukan koneksi saraf yang cepat dan sensitif. Kapasitas kognitif dapat menurun, dan kesempatan belajar menjadi tidak setara sejak awal. Di masa dewasa, risiko penyakit tidak menular cenderung meningkat, karena setelan metabolik sudah terbentuk dalam kondisi “bertahan hidup”. Pada akhirnya, stunting menjadi isu ketahanan SDM, bukan sekadar isu tinggi badan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....