Malaria Penyakit Menular yang Perlu Diwaspadai dan Dicegah
- 05 Mei 2026 08:01 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID Bandar Lampung - Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit jenis Plasmodium, dan masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di berbabgai wilayah Indonesia, terutama di daerah beriklim panas dan lembab. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk betina jenis anopheles yang membawa parasit.
Nyamuk ini biasanya aktif mencari mangsa mulai senja hingga pagi hari, berbeda dengan nyamuk penyebab demam berdarah yang banyak beraktivitas di siang hari. Ketika digigit nyamuk yang terinfeksi, parasit akan masuk ke dalam aliran darah dan berkembang biak di dalam tubuh.
Gejala ini biasanya muncul dalam waktu 7 hingga 30 hari setelah digigit, meskipun pada beberapa kasus baru terasa setelah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Gejala awal yang umum dirasakan penderita meliputi demam yang datang dan pergi secara berulang, menggigil hebat, berkeringat banyak, sakit kepala, nyeri otot, serta rasa lelah yang luar biasa.
Dalam kasus yang lebih parah, parasit dapat menyerang organ tubuh penting seperti otak, ginjal, atau hati, yang menyebabkan gangguan kesadaran, penurunan jumlah sel darah merah secara cepat, hingga kegagalan fungsi organ yang jika tidak segera ditangani dapat mengancam nyawa. Hingga saat ini, penanganan medis untuk malaria dilakukan dengan mdemberikan obat antimalaria yang disesuaikan dengan jenis nparasit penyebab dan tingkat keparahan penyakit.
Penting untuk diingat bahwa pengobatan harus dilakukan dibawah pengawasan tenaga kesehatan, karena penggunaan obat yang tidak tepat atau berhenti di tengah jalan dapat membuat parasit menjadi kebal terhadap obat, sehingga penanganan menjadi lebih sulit di masa mendatang. Dikutip dari laman Kemenkes RI.go.id, guna menekan angka kasus di daerah endemis tinggi, Kemenkes menerapkan strategi TOKEN (Temukan, Obati, Kendalikan Vektor).
Intervensi khusus juga menyasar kelompok bermobilitas tinggi (Mobile Migrant Population), seperti pekerja tambang, perambah hutan, TNI, Polri, dan masyarakat adat di wilayah terpencil, melalui pembagian kelambu antinyamuk serta pengobatan pencegahan yang terarah.
Tingginya mobilitas penduduk dan iklim tropis yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Anopheles membuat risiko penularan kembali (re-establishment) selalu mengintai. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan seperti penataan tambak, lahan tambang terbengkalai, dan rawa-rawa memerlukan kolaborasi lintas kementerian, sektor swasta, serta masyarakat luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....