Preeklamsia Pembunuh Senyap yang Mengancam Ibu Hamil
- 22 Apr 2026 08:12 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID Bandar Lampung - Preeklamsia adalah gangguan kehamilan yang ditandai dengan kenaikan tekanan darah (hipertensi) dan adanya protein dalam urine. Kondisi ini umumnya muncul setelah usia kehamilan menginjak 20 minggu, namun bisa juga terjadi setelah persalinan. Jika dibiarkan, preeklamsia dapat berkembang menjadi eklamsia yang menyebabkan kejang, penurunan kesadaran, hingga kerusakan prgan vital seperti ginjal, hati, dan otak.
Dikutip dari Kemenkes.go.id, saat ini, angka kematian ibu di Indonesia masih berada pada 140 per 100.000 kelahiran hidup, lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Malaysia. Preeklamsia dan eklamsia menjadi penyebab kematian ibu terbesar kedua, dengan kontribusi sekitar 25 persen dari total kasus.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa pemerintah menargetkan penurunan AKI secara agresif hingga mencapai 40 per 100.000 kelahiran hidup dalam lima tahun ke depan. Upaya ini didukung transformasi sistem kesehatan, termasuk pemerataan akses deteksi dini melalui distribusi alat kesehatan.
Banyak ibu hamil tidak merasakan gejala khusus pada tahap awal. Namun, waspadalah jika muncul tanda-tanda berikut ini :
1. Tekanan darah tinggi (diatas 140/90 mmHg)
2. Bengkak pada wajah, tangan, dan kaki yang tidak wajar
3. Sakit kepala yang hebat dan tidak hilang dengan obat biasa.
4. Pandangan mata menjadi kabur atau melihat bintik-bintik terang.
5. Nyeri atau rasa sakit di ulu hati atau bagian atas perut kanan.
6. Berat badan naik drastis dalam waktu singkat, akibat penumpukan cairan.
Siapa saja bisa terkena preeklamsia, namun risiko lebih tinggi pada kelompok berikut :
1. Ibu hamil untuk pertama kali.
2. Memiliki riwayat hipertensi atau penyakit ginjal sebelumnya.
3. Riwayat preeklamsia dalam keluarga.
4. Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
5. Kehamilan dengan janin kembar.
6. Obesitas atau kelebihan berat badan.
Meskipun penyebab pastinya belum sepenuhnya diketahui, upaya deteksi dini dan pengendalian sangat penting :
1. Kontrol rutin (ANC) : Periksa kehamilan secara teratur ke bidan atau dokter untuk memantau tekanan darah dan kondisi urine.
2. Konsumsi makanan sehat : Kurangi makanan yang terlalu asin dan berlemak, perbanyak sayur, buah, dan protein.
3. Istirahat cukup : Hindari kelelahan berlebihan.
4. Minum obat sesuai anjuran : Jika dokter meresepkan obat penurun darah tinggi atau kalsium, minumlah secara rutin.
5. Segera ke rumah sakit : Jika muncul gejala bahaya seperti sakit kepala hebat atau pandangan kabur, jangan tunda untuk mencari pertolongan medis.
Preklamsia tidak bisa dianggap remeh. Kesadaran akan gejala dan kepatuhan melakukan pemeriksaan kehamilan adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa ibu dan calon bayi. Ingat, deteksi dini dapat mencegah komplikasi yang membahayakan jiwa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....