Bagaimana Gaya Hidup Digital Meretas Sistem Neurokognisi Otak
- 13 Apr 2026 08:47 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung – Di era digital saat ini, akses terhadap konten dewasa menjadi sangat mudah dan tak terbatas. Fenomena ini tidak hanya sekedar masalah perilaku atau moral, tetapi telah menjadi topik serius dalam dunia medis dan psikologi. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pornografi yang berlebihan dapat menciptakan efek yang mirip dengan kecanduan zat adiktif, yang secara perlahan meretas atau mengubah struktur serta fungsi sistem neurokognisi di dalam otak.
Dikutip dari laman Kemenkes.go.id, Kata “candu” sering dipakai untuk menggambarkan semua orang yang pernah melihat pornografi. Itu tidak adil dan tidak ilmiah. Sebagian orang bisa terpapar tanpa menjadi problematis. Tetapi ada juga yang masuk ke pola yang sulit dikendalikan: menonton berulang, mengganggu fungsi belajar, tidur, relasi, dan kesehatan mental.
Di ranah sains, dunia memang masih berdebat: apakah ini “adiksi” seperti zat adiktif, atau lebih tepat disebut kompulsif/kesulitan kontrol impuls. Namun untuk pendidikan dan pengasuhan, yang paling penting bukan labelnya. Yang penting adalah tanda-tandanya dan responsnya. Maka, “candu” sebaiknya dipahami sebagai sinyal kebutuhan dukungan, bukan cap untuk menghukum.
Otak manusia bekerja dengan sistem hadiah (reward system) yang melibatkan zat kimia bernama dopamin. Zat ini dilepaskan ketika kita melakukan sesuatu yang menyenangkan, berfungsi sebagai penguat ingatan agar perilaku tersebut terulang.
Pornografi memicu lonjakan dopamin yang sangat tinggi dan instan, jauh melebihi apa yang biasanya didapatkan dari aktivitas mormal atau hubungan intim yang nyata. Otak kemudian mulai menegosiasikan gambar dan video tersebut sebagai sumber kepuasan utama. Seiring waktu, otak beradaptasi dan membutuhkan stimulus yang lebih ektrem atau lebih sering untuk mendapatkan efek yang sama, sebuah proses yang dikenal sebagai toleransi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....