Menkes Ajak Cerdas Hitung Menu Sahur
- 03 Mar 2026 05:47 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung: Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kembali membagikan edukasi gizi selama Ramadan. Setelah sebelumnya menyoroti menu berbuka, kali ini ia membandingkan biaya sahur berbasis karbohidrat sederhana dengan sahur tinggi protein dan lemak baik.
Melalui konten Budi Gemar Sharing (#BGS) di akun instagram @bgsadikin, ia menyampaikan alasan ekonomi kerap menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih menu sahur. Padahal, menu sehat tidak selalu lebih mahal jika dihitung secara sederhana.
Menkes mencontohkan kebiasaan sahur dengan mi instan ditambah nasi putih. Kombinasi tersebut merupakan sumber karbohidrat ganda yang dapat memicu lonjakan gula darah secara cepat, lalu turun drastis. Dampaknya, rasa lapar bisa muncul lebih awal saat berpuasa.
Dari sisi biaya, satu porsi mi instan dengan tambahan nasi dan lauk sederhana rata-rata menghabiskan sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000, tergantung wilayah. Angka tersebut dinilai tidak jauh berbeda dengan alternatif sahur tinggi protein.
Sebagai perbandingan, dua butir telur rebus diperkirakan seharga sekitar Rp5.000 dan setengah buah alpukat ukuran sedang sekitar Rp7.500. Totalnya berkisar Rp12.500 hingga Rp13.000.
Menurut Budi, dengan biaya yang relatif sama, kandungan gizinya berbeda signifikan. Protein membantu memperlambat pengosongan lambung sehingga rasa kenyang bertahan lebih lama. Sementara lemak baik dari alpukat mendukung kestabilan energi tanpa lonjakan gula darah tajam.
Ia menegaskan karbohidrat tetap dibutuhkan tubuh, namun porsinya perlu diatur. Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oat, atau roti gandum disarankan dikombinasikan dengan protein, serat, serta lemak sehat agar energi lebih stabil hingga waktu berbuka.
Menkes berharap masyarakat dapat lebih cermat menyusun menu sahur. Dengan demikian, ibadah puasa dapat dijalani dengan tubuh tetap bugar dan produktivitas terjaga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....