Terapi Air Laut Bagi Penderita Syaraf Kejepit

  • 19 Feb 2026 11:31 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID - Terapi air laut telah menjadi salah satu metode alternatif yang populer untuk mengatasi syaraf kejepit. Syaraf kejepit adalah kondisi yang menyebabkan nyeri, kesemutan, dan keterbatasan gerak akibat tekanan berlebih pada saraf. Terapi air laut memanfaatkan daya apung air untuk mengurangi tekanan pada tulang belakang dan otot, sehingga membantu mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan fleksibilitas. Menurut Iwan Septiawan seorang penderita syaraf kejepit,"Saya rutin setiap hari sabtu dan minggu terapi air laut untuk mengurangi rasa sakit dari syaraf kejepit". Selama menderita syaraf kejepit yang sudah hampir dua tahun ini, dengan terapi air laut maka rasa sakit yang dideritanya lambat laun menghilang. Terapi ini memang harus rutin dilakukan, agar syaraf kejepit sembuh. " Sebaiknya terapi syaraf kejepit itu dilakukan pagi hari sekitar pukul 05.00 sampai 06.00 wib, karena air laut masih bersih", lanjutnya

Adapun manfaat Terapi Air Laut untuk Syaraf Kejepit adalah :

- Mengurangi Tekanan pada Tulang Belakang: Daya apung air laut mengurangi efek gravitasi pada tubuh, sehingga tekanan pada tulang belakang berkurang.

- Meningkatkan Fleksibilitas Otot dan Sendi: Gerakan dalam air membantu meningkatkan fleksibilitas otot dan sendi, sehingga membantu dalam pemulihan.

- Memperkuat Otot di Sekitar Saraf Terjepit: Resistensi alami air membantu memperkuat otot-otot di sekitar saraf terjepit, sehingga meningkatkan stabilitas dan mengurangi tekanan pada saraf.

Cara Melakukan Terapi Air Laut:

1. Konsultasikan dengan dokter atau fisioterapis sebelum memulai terapi.

2. Mulai dengan gerakan ringan, seperti berjalan atau berenang, dan secara bertahap meningkatkan intensitas.

3. Gunakan alat bantu, seperti pelampung atau water jogging belt, untuk membantu mengurangi tekanan pada saraf.

Terapi air laut dapat menjadi solusi alami yang efektif untuk mengatasi syaraf kejepit. Namun, perlu diingat bahwa setiap kondisi syaraf kejepit berbeda, sehingga diperlukan pendekatan yang sesuai dengan tingkat keparahan dan kondisi kesehatan masing-masing individu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....