Tren Konsumsi Matcha Sebagai Superfood

  • 24 Jan 2026 08:59 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung: Matcha bukan sekadar minuman hijau kekinian yang sering muncul di media sosial atau jadi pengganti kopi bagi anak muda. Lebih dari itu, matcha memiliki sejarah panjang yang telah berlangsung hampir 1.000 tahun, sejak masa klan Shogun berkuasa di Jepang dan kaisar memimpin China. Asal-usul matcha dapat ditelusuri hingga masa Dinasti Tang di China, sekitar abad ke-7 hingga ke-10. Pada masa itu, daun teh dikukus, dikeringkan, dan dipadatkan menjadi bentuk batu bata agar mudah dibawa dan diperdagangkan.

Kini, budaya minum matcha makin tenar dan berkembang di Jepang. Di Jepang, matcha menjadi bagian penting dalam upacara minum teh, bahkan dikaitkan dengan simbol meditasi, ketenangan, dan penghormatan terhadap alam. Dibalik nilai warisan budaya dan trennya saat ini, benarkah klaim matcha yang acap kali dianggap sebagai superfood ini didukung secara nutrisi? Menurut Ahli Nutrisi dan Anti Aging Yovi Yoanita, matcha memang memiliki sejumlah manfaat bagi tubuh. Namun, penting untuk memahami bahwa istilah superfood sendiri bukanlah istilah medis. “Superfood itu istilah kekinian untuk melabeli makanan yang katanya padat nutrisi. Jadi targetnya bisa memberi peningkatan kesehatan, imunitas, energi, atau pencegahan penyakit,” ujarnya.

Dengan kata lain, meski kandungannya menjanjikan, matcha tetap harus dipahami sebagai bagian dari pola makan yang menyeluruh. Artinya, matcha bukan pengganti makanan utama atau obat. Matcha memang merupakan bubuk teh hijau murni yang diproses secara khusus, sehingga kandungan nutrisinya lebih terjaga. Salah satu senyawa yang menarik perhatian dari matcha adalah L-theanine yang dikenal mampu meningkatkan fokus dan menjaga kesehatan otak.

Senyawa ini juga dapat membantu menenangkan sistem saraf. Ini juga yang membuat konsumsi matcha tidak menimbulkan efek gugup seperti yang sering dirasakan setelah minum kopi. Kafein dalam matcha pun lebih rendah, sehingga lebih stabil dalam memberi energi. Selain itu, matcha mengandung antioksidan kuat seperti ECG-14 yang diklaim mampu mengurangi efek buruk dari paparan rokok dan bahkan memiliki potensi anti-kanker. Tak hanya itu, Yovi menyebut matcha juga kaya akan vitamin A, C, E, serta vitamin B kompleks dan berbagai mineral yang mendukung fungsi tubuh secara keseluruhan. Konsumen disarankan memilih produk yang terjamin kualitasnya dan tidak melupakan kebutuhan gizi harian. di tengah tren yang berkembang, konsumsi matcha tetap harus diiringi kesadaran akan gizi seimbang dan gaya hidup sehat secara keseluruhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....