Ketika Vape Jadi Kebiasaan Anak Muda

  • 28 Nov 2025 19:01 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Bandarlampung: Di banyak sudut kota, dari tongkrongan kafe, area kampus, sampai spot nongkrong malam hari, ada satu pemandangan yang kini makin sering terlihat anak muda yang ngepot alias ngevape. Awan uap wangi rasa blueberry, semangka, sampai cappuccino bertebaran seolah jadi bagian dari gaya hidup kekinian.

Bagi sebagian orang, vape terasa “lebih aman” dibanding rokok biasa. Bentuknya kecil, aromanya manis, dan bisa dipakai sambil ngobrol santai tanpa meninggalkan bau menyengat. Beberapa anak muda bahkan menjadikannya identitas gaya dan aksesori yang tak kalah penting dari tote bag, hoodie oversized, atau earphone yang selalu menempel di telinga.

Namun, di balik fenomena ini, ada cerita-cerita kecil yang menggambarkan bagaimana budaya ngevape menyusup begitu cepat ke keseharian.

Seperti Dafa, mahasiswa semester empat, mengaku awalnya hanya coba-coba karena teman satu tongkrongannya semuanya pakai vape. “Awalnya cuma ikut. Lama-lama jadi kebiasaan. Kalo nongkrong nggak ngevape, rasanya kayak ada yang kurang,” katanya sembari tertawa kecil.

Lain lagi dengan Rani, pekerja kantoran yang mengaku mulai ngepot saat lembur sering datang bertubi-tubi. “Rasa mint-nya bikin kepala agak fresh. Jadi keterusan,” ujarnya.

Berbeda dengan Nathan seorang pelajar SMA di Bandarlampung juga menyoroti bagaimana hampir semua teman-temannya yang menggantungkan vape di leher dan memiliki kebiasaan ngevape begitu keluar dari gerbang sekolah. "Aku sih ngga ngepot kak, tapi hampir semua temen temen aku ngepot semua deh kayaknya, di gantungin gitu di leher, trus kadang aku perhatiin satu vape bisa cobain sama kawannya dari mulut ke mulut". Katanya bercerita.

Meski begitu, tidak semua cerita Vape yang terasa manis itu benar-benar berakhir “manis”. Ada juga anak muda yang merasa ketergantungan mulai mengganggu aktivitas. Ada yang mudah pusing saat tidak menghirup uap vape, ada yang mulai batuk-batuk, bahkan ada yang merasa sulit berkonsentrasi saat mencoba mengurangi.

Fenomena ini menunjukkan satu hal: vape bukan lagi tren sesaat. Ia sudah menjadi budaya.

Meski sering dikira aman, berbagai ahli kesehatan menegaskan bahwa vape tetap punya dampak kesehatan yang tidak bisa dianggap enteng. Kandungan nikotin tetap bisa memicu kecanduan, sementara zat kimia lain dalam cairan vape berpotensi mengiritasi paru-paru, mengganggu pernapasan, dan memengaruhi kesehatan jangka panjang.

Dan yang paling sering terlupa: tubuh anak muda masih berkembang, dan sistem pernapasan mereka jauh lebih sensitif dibanding orang dewasa.

Lalu anak muda harusnya seperti apa?

Anak muda dikenal pintar, adaptif, dan selalu mencari hal baru. Tapi kemampuan itu justru bisa jadi kekuatan untuk membuat pilihan yang lebih bijak.

Tidak ada yang melarang nongkrong, bersosialisasi, atau punya gaya hidup keren. Tapi bayangkan kalau energi dan kreativitas itu dipakai untuk hal-hal yang lebih sehat: olahraga bareng, naik gunung, bikin konten produktif, atau sekadar ngopi sambil ngobrol tanpa perlu embusan uap manis.

Karena pada akhirnya, kesehatan itu bukan soal hari ini saja. Ini bekal jangka panjang.

Dan kalau anak muda ingin terus bergerak, berkarya, dan mengejar mimpi besar paru-paru yang sehat itu penting banget.

Tren boleh berganti. Vape mungkin masih terlihat keren hari ini. Tapi masa depan yang cerah akan selalu lebih keren.

Sebelum ngepot lagi, coba tanya diri sendiri:

“Uap ini cuma bikin gaya, atau diam-diam bikin aku rugi di kemudian hari?”

Pilihan tetap di tangan anak muda. Tapi semoga pilihan itu selalu mengarah pada kesehatan, masa depan, dan kehidupan yang jauh lebih baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....