Gangguan Penglihatan Bisa Prediksi Risiko Demensia

  • 29 Jun 2025 09:35 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Bandar Lampung : Gangguan penglihatan dapat menjadi tanda awal terjadinya penurunan fungsi otak, bahkan hingga 12 tahun sebelum seseorang resmi didiagnosis mengalami demensia.Temuan ini diungkapkan dalam studi terbaru yang dimuat di National Library of Medicine berdasarkan penelitian terhadap 8.623 orang sehat di Norfolk, Inggris.

Para peserta penelitian ini dipantau dalam jangka panjang dan sebanyak 537 di antaranya kemudian terdiagnosis demensia. Peneliti meminta para partisipan mengikuti tes sensitivitas visual di awal studi. Mereka diminta menekan tombol saat melihat bentuk segitiga muncul di antara titik-titik yang bergerak di layar.

Hasilnya, partisipan yang kemudian terkena demensia cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenali bentuk tersebut dibandingkan mereka yang tetap sehat. Masalah visual bisa menjadi indikator awal penurunan kognitif karena plak amiloid toksik yang terkait Alzheimer kemungkinan pertama kali menyerang area otak yang berperan dalam penglihatan, sebelum merusak bagian yang mengatur memori.

Gangguan mata yang mungkin terjadi

Penelitian ini juga mengidentifikasi sejumlah gangguan penglihatan lain yang umum terjadi pada pasien Alzheimer, seperti menurunnya kemampuan melihat kontras, kesulitan membedakan warna tertentu—khususnya biru-hijau—serta kontrol gerakan mata yang buruk terhadap objek yang mengganggu.

Penderita Alzheimer tampaknya kesulitan mengabaikan rangsangan yang mengganggu, dan ini mungkin muncul sebagai gangguan kontrol gerakan mata. Gangguan semacam ini tidak hanya memengaruhi aktivitas sehari-hari, tapi juga dapat meningkatkan risiko kecelakaan, misalnya saat mengemudi.

Tim peneliti di Loughborough University saat ini tengah menyelidiki kaitan antara gangguan gerakan mata dan kecelakaan lalu lintas pada pasien demensia.Namun, manfaat ini dilaporkan lebih menonjol pada individu yang bertangan kanan dan masih memerlukan studi lanjutan.

Meski demikian, pemanfaatan gerakan mata sebagai alat diagnostik dini untuk Alzheimer belum umum dilakukan karena keterbatasan teknologi dan biaya.Salah satu kendala utama adalah akses terhadap perangkat pelacak gerakan mata (eye tracker) yang masih mahal dan butuh keahlian khusus.

Dengan meningkatnya pemahaman tentang keterkaitan antara penglihatan dan demensia, para ahli berharap metode diagnosis dini bisa dikembangkan lebih lanjut. Studi ini menunjukkan potensi besar pengujian visual sebagai alat skrining kognitif sebelum gangguan daya ingat muncul.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....