Fenomena Ketamin, Obat Bius yang Jadi Ancaman di Kalangan Gen Z

  • 08 Des 2024 21:18 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Bandarlampung: Ketamin, obat anestesi yang awalnya dikembangkan untuk keperluan medis, kini menjadi sorotan karena penyalahgunaannya yang semakin marak di kalangan generasi muda, terutama Gen Z. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran baru terkait dampak buruk yang ditimbulkan, baik pada kesehatan fisik, mental, maupun sosial.

Baru-baru ini Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM) berencana mengajukan ketamin sebagai bagian dari golongan narkotika. Langkah ini didasarkan pada maraknya penyalahgunaan obat tersebut di masyarakat.


"Kita, kalau tidak hati-hati, obat ini akan menimbulkan kecemasan. Saya melihat ini sangat mengerikan trennya, dalam waktu satu tahun meningkat hampir 100 persen. Secara spesifik saya mengatakan tren peningkatan distribusi ketamin pada tahap mengkhawatirkan," ujar Kepala BPOM Taruna Ikrar, Jumat (6/12/2024).

Dalam dunia medis, ketamin dikenal sebagai obat bius yang digunakan dalam operasi atau untuk meredakan nyeri kronis. Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan potensinya sebagai terapi untuk depresi berat. Namun, sifatnya yang menghasilkan efek euforia dan halusinasi membuat obat ini kerap disalahgunakan sebagai narkotika.

Dikutip dari Alcohol and Drug Foundation, ketamin sebenarnya digunakan oleh tenaga medis dan dokter hewan sebagai obat bius. Namun, obat ini sering kali disalahgunakan secara ilegal untuk tujuan rekreasi.

Ketamin bekerja dengan memengaruhi reseptor NMDA di otak, yang memberikan efek "melayang" atau out-of-body experience. Hal ini membuatnya populer di dunia pesta dan subkultur musik elektronik, meskipun penggunaannya tanpa resep medis tergolong ilegal dan berbahaya.

Meskipun ketamin aman digunakan dalam praktik medis yang terkontrol, zat ini menjadi berbahaya jika seseorang mengonsumsinya untuk penggunaan rekreasi karena dapat mengakibatkan efek samping yang berpotensi mengancam jiwa.
Sebagai obat disosiatif, ketamin dapat membuat seseorang merasa terlepas dari tubuh atau lingkungan fisiknya. Obat ini juga memiliki efek mirip psikedelik, seperti halusinasi dan perubahan pada pikiran, emosi, serta kesadaran.

Penyalahgunaan ketamin paling banyak ditemukan pada kalangan generasi muda, terutama generasi Z atau gen z. Dalam kelompok ini, ketamin berbentuk injeksi sering dimanfaatkan sebagai pereda nyeri saat proses pembuatan tato.


Generasi Z, yang dikenal dengan keterbukaannya terhadap tren baru, termasuk dalam kelompok rentan terhadap penyalahgunaan ketamin. Beberapa faktor pendorong fenomena ini meliputi:

1. Pengaruh Lingkungan Sosial: Ketamin sering dianggap sebagai bagian dari gaya hidup pesta.

2. Rasa Ingin Tahu: Keinginan untuk bereksperimen dengan sensasi baru sering kali mendorong generasi muda mencoba zat ini.

3. Tekanan Psikologis: Dalam upaya mencari pelarian dari stres atau tekanan sosial, beberapa individu menjadikan ketamin sebagai jalan pintas.


Penggunaan ketamin dapat memicu sejumlah efek samping yang memerlukan perhatian medis segera. Meski efeknya mungkin terasa menyenangkan pada awalnya, ketamin menyimpan risiko besar: dikutip dari Cleveland Clinic:

Reaksi alergi (ruam kulit, gatal, atau pembengkakan pada wajah, bibir, dan lidah).
Halusinasi.
Gangguan irama detak jantung (kesulitan bernapas, nyeri dada, pusing, hingga detak jantung yang cepat dan tidak teratur).
Peningkatan tekanan darah.
Tinja berwarna terang.
Cedera hati (urine berwarna gelap, gejala mirip flu, kehilangan nafsu makan, nyeri pada perut kanan atas, kelemahan ekstrem, atau kulit dan mata menguning).
Tekanan darah rendah (pusing, kelemahan, hingga pingsan).
Kesulitan bernapas.

Kerusakan Organ: Penggunaan ketamin dapat menyebabkan kerusakan pada kandung kemih dan saluran kemih.

Gangguan Mental: Ketergantungan ketamin dapat memicu gangguan kecemasan, depresi, dan kerusakan kognitif.

Risiko Kematian: Overdosis ketamin dapat mengakibatkan koma atau bahkan kematian.


Ketamin, yang seharusnya menjadi alat bantu dalam dunia medis, kini berubah menjadi ancaman serius akibat penyalahgunaannya. Edukasi dan kesadaran masyarakat adalah kunci untuk melindungi generasi muda dari bahaya ini. Jika Anda atau orang di sekitar Anda terjerat dalam lingkaran penyalahgunaan obat, segera cari bantuan dari pihak berwenang atau layanan rehabilitasi terdekat.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....