Apa itu Disabilitas Intelektual pada Anak?
- 09 Okt 2024 23:24 WIB
- Bandar Lampung
KBRN, Bandarlampung : Keterbelakangan mental, yang umumnya dikenal sebagai disabilitas intelektual, pada anak-anak perlu dipahami secara saksama. Kondisi ini merujuk pada keterbatasan anak dalam fungsi intelektual dan adaptasi sosial yang berada di bawah ekspektasi perkembangan standar untuk usia mereka. Meskipun tantangan ini dapat menjadi sulit, dengan dukungan, pemahaman, dan pendekatan yang tepat, anak-anak dengan disabilitas intelektual dapat mengembangkan potensi mereka dan mencapai kualitas hidup yang bermakna.
Disabilitas intelektual, yang juga dikenal sebagai retardasi mental, adalah kondisi di mana kecerdasan atau kemampuan intelektual seseorang berada di bawah tingkat rata-rata sejak tahap perkembangan awal. Disabilitas intelektual dapat terjadi sejak awal kehidupan anak saat mereka masih dalam kandungan.
Anak-anak dengan disabilitas intelektual sering kali dapat dikenali dari gejala-gejala khas yang tercantum diantaranya adalah Kesulitan memahami informasi dan daya ingat yang buruk, Kesulitan berpikir abstrak, Kesulitan berkomunikasi, Kesulitan memecahkan masalah, Kesulitan berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Gejala lain adalah masalah dalam perkembangan sosial dan emosional, Kesulitan melakukan aktivitas dasar sehari-hari, seperti makan atau berpakaian, Perkembangan kemampuan seperti duduk, merangkak, atau berjalan yang lebih lambat dibandingkan dengan teman sebayanya.
Disabilitas intelektual dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat kecerdasan yang diukur menggunakan indikator intelligence quotient (IQ). Dr. Dwidjo Saputro, SpKJ (K) menyebutkan ada 3 klasifikasi disabilitas intelektual,
Disabilitas Intelektual Ringan IQ berkisar antara 55–70. Disabilitas Intelektual Sedang IQ berkisar antara 35–55. Dan Disabilitas Intelektual Berat dengan IQ di bawah 35.
Anak-anak pada level ini akan menghadapi kesulitan serius dalam berbicara, memahami informasi, dan memenuhi kebutuhan dasar mereka. Mereka cenderung membutuhkan perawatan intensif dan dukungan penuh seumur hidup.
Dr. Dwidjo Saputro, SpKJ (K) memaparkan bahwa ada beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan disabilitas intelektual pada anak. Berikut ini di antaranya.
Faktor biomedis yang meliputi faktor genetik, seperti mutasi genetik yang dapat menyebabkan fenilketonuria, kelainan metabolisme yang mengakibatkan akumulasi fenilalanina. Jika fenilketonuria tidak segera diobati, dapat menyebabkan keterbelakangan mental pada anak-anak.
Faktor lingkungan juga seperti tinggal di daerah dengan kekurangan yodium dapat menyebabkan asupan yodium rendah pada anak-anak. Kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mereka dan berpotensi menyebabkan masalah kesehatan yang dikenal sebagai Gangguan Kekurangan Yodium (GAKY). GAKY diakui sebagai penyebab utama keterbelakangan mental yang dapat dicegah di seluruh dunia.
Selanjutnya adalah Faktor Pendidikan Orang Tua, Orang tua yang kurang memahami pengasuhan yang efektif dapat memengaruhi perkembangan anak. Situasi ini dapat menyebabkan pengasuhan yang tidak memadai. Rendahnya tingkat stimulasi yang diberikan dalam pengasuhan anak sehari-hari juga dapat menyebabkan keterbelakangan mental pada anak-anak.
Selain itu, pendidikan orang tua yang rendah terkait erat dengan kemiskinan dan asupan gizi yang buruk. Pengetahuan orang tua yang terbatas tentang pola makan sehat dan bergizi juga dapat memengaruhi perkembangan intelektual anak.
Disabilitas intelektual dapat terjadi akibat masalah yang terjadi sejak anak masih dalam kandungan hingga lahir, seperti bayi yang tidak langsung menangis saat lahir. Cedera otak yang terjadi setelah lahir juga dapat memicu kejang dan epilepsi pada anak, yang berpotensi menyebabkan disabilitas intelektual.
Sementara terkait penanganan disabilitas intelektual dapat bervariasi tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Oleh karena itu, sangat penting untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dari dokter atau tenaga medis yang berpengalaman dalam menangani kasus disabilitas intelektual.
Dengan diagnosis yang akurat, dokter dapat merancang pendekatan pengobatan dan dukungan yang disesuaikan untuk membantu anak mencapai potensinya dan mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....