Praktik Pengambilan Nilai, Unila Gelar Revitalisasi Seni Tari

  • 14 Jun 2024 16:48 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Bandarlampung: Program Studi (Prodi) Pendidikan Seni Tari Universitas Lampung (Unila) mengadakan revitalisasi seni tari dengan tema “Trial On… Part 1″ di Taman Budaya Provinsi Lampung, Kamis (13/6/2024) kemarin.

Kegiatan ini merupakan praktik pengambilan nilai ujian akhir semester (UAS) mata kuliah koreografi nontradisi bagi mahasiswa prodi pendidikan seni tari angkatan 2021.

Revitalisasi seni tari ini dihadiri beberapa dosen dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila, praktisi tari kontemporer dari Surabaya Puri Senjani Apriliani.

Terdapat tiga tarian kontemporer yang ditampilkan bertajuk “Maha”, “In Cycle”, dan “Perkiasari”. Ketiga tarian tersebut ditampilkan secara berurutan dengan pesan berbeda-beda.

Dosen pengampu mata kuliah koreografi nontradisi, Goesthy Ayu Mariana Devi, mengatakan mahasiswa-mahasiswi tidak boleh hanya dididik untuk menjadi seorang guru.

"Mahasiswa juga perlu belajar dan dipersiapkan menjadi koreografer di masa mendatang. Oleh karena itu, kegiatan ini dilaksanakan," ujarnya.

Sementara Ketua Pelaksana, Made Rinesti Aqila, mengatakan untuk mempersiapkan kegiatan ini, para mahasiswa menghabiskan waktu sekitar tiga bulan, mulai dari penyusunan konsep hingga eksekusi.

“Maha” adalah sebuah tarian kontemporer yang berkisah tentang keluh kesah seorang mahasiswa untuk mencapai gelarnya. Banyak perasaan dialami dalam proses tersebut, seperti sedih, gembira, bingung, bahkan membuat mahasiswa depresi. Namun di balik itu semua, mahasiswa tetap bertahan demi masa depan dan orang tua.

Selanjutnya, “In Cycle” adalah sebuah tarian kontemporer berkisah tentang proses terjadinya menstruasi yang kerap dialami para wanita. Proses terjadinya menstruasi adalah proses melelahkan bagi wanita, tetapi terkadang masih disepelekan berbagai pihak.

Kemudian, “Perkiasari” adalah sebuah tarian kontemporer berkisah mengenai dua sisi yang ada dalam diri wanita, yakni sisi feminim dan sisi maskulin. Terkadang terdapat anggapan wanita hanya boleh melakukan kegiatan bersifat feminim, padahal juga terdapat sisi maskulin dalam diri wanita.

Kegiatan ini diharapkan menjadi motivasi bagi mahasiswa agar terus menghasilkan karya yang indah dan spektakuler, untuk disajikan kepada masyarakat, serta dapat menjadi salah satu media pelestarian kesenian tari di Indonesia.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....