Startup AS Pacu Produksi Baterai Sodium Ion Lokal

  • 30 Sep 2026 20:47 WIB
  •  Bandar Lampung
Poin Utama
  • Gelombang panas Eropa mendorong lonjakan permintaan baterai penyimpan energi rumah tangga, khususnya di Spanyol, Prancis, Jerman, dan Belanda.
  • Startup AS Unigrid mengembangkan baterai sodium ion berkapasitas 9 kilowatt jam untuk pasar rumah tangga sebagai solusi penyimpanan energi terbarukan.
  • Teknologi sodium ion memungkinkan warga menyimpan listrik saat tarif jaringan murah dan menggunakannya saat peak demand, terutama untuk pendingin ruangan di cuaca panas.

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Gelombang panas Eropa memicu lonjakan permintaan baterai penyimpan energi rumah tangga. Startup Amerika Serikat (AS) melihat peluang itu untuk menghidupkan kembali produksi baterai di dalam negeri, dengan bertaruh pada teknologi sodium ion.

Perusahaan asal San Diego, Unigrid, menjual baterai sodium ion berkapasitas 9 kilowatt jam untuk rumah. Permintaan datang dari Spanyol, Prancis, Jerman, dan Belanda. Warga ingin menyimpan listrik saat tarif jaringan lebih murah, lalu memakai cadangan daya itu untuk menyalakan pendingin ruangan saat suhu terik.

“Kami mendapat permintaan dari Spanyol, Prancis, Jerman, Belanda. Kami sudah mengirim 100 unit pertama dan berharap mengirim 1.000 unit sebelum akhir tahun,” ujar Darren Tan, salah satu pendiri sekaligus CEO Unigrid.

Baterai sodium ion digadang-gadang lebih murah diproduksi dan dioperasikan daripada baterai lithium ion. Teknologi ini juga dinilai lebih kecil kemungkinannya terbakar serta mampu bekerja pada rentang suhu lebih luas, bahkan hingga minus 40 derajat Celsius.

Namun, masih ada perdebatan soal desain baterai sodium ion terbaik dan teraman. China saat ini memimpin manufaktur baterai sodium ion, sehingga pesaing dari AS harus bekerja keras mengejar ketertinggalan.

Hadiah utamanya adalah kemungkinan memproduksi baterai di AS dengan 100% bahan baku lokal. Hal ini berbeda dari baterai lithium ion, yang rantai pasok bahan dan produksinya banyak dikuasai China.

Unigrid sendiri masih menggunakan sel sodium ion buatan China. Tan menyebut perusahaannya bisa beralih ke sel buatan AS di masa depan, meski biayanya bisa berbeda.

Ada pula kekhawatiran soal bahan katoda. Baterai Unigrid mengandung chromium-3. Prof Dame Clare Grey dari University of Cambridge, salah satu pendiri Nyobolt, memperingatkan bahwa dalam kondisi tertentu chromium-3 dapat berubah menjadi chromium-6, material beracun dan memicu kanker.

Ivana Hasa dari University of Warwick menilai perubahan itu mungkin terjadi pada kondisi pengisian daya yang sangat tinggi. Namun, risiko tersebut bisa ditekan melalui pengaturan voltase di dalam baterai. Menurutnya, uji keamanan pada kimia sel Unigrid sangat menjanjikan.

Tan menilai kekhawatiran soal toksisitas bahan baterai “berlebihan”. Ia menegaskan baterai Unigrid telah lulus sertifikasi dan uji keamanan untuk dijual di Eropa, serta sedang menjalani evaluasi untuk pasar AS. Uji pihak ketiga, katanya, tidak berhasil menghasilkan chromium-6.

Harga baterai sodium ion Unigrid sekitar US$100 per kilowatt jam (kWh). Sebagai perbandingan, baterai LFP, salah satu jenis lithium ion yang relatif murah, diperdagangkan sekitar US$81 per kWh pada Desember lalu. Beberapa perusahaan yakin harga sodium ion bisa turun hingga US$30 per kWh, tetapi analis memperkirakan biaya jauh lebih murah itu masih bertahun-tahun lagi.

Sodium ion juga tidak sepadat energi lithium ion. Artinya, baterai harus sedikit lebih besar dan lebih berat untuk memberi daya yang sama. Karena itu, teknologi ini lebih cocok untuk penyimpanan energi skala besar, bukan ponsel pintar.

David Bell, CEO Emerald Battery Labs asal Seattle, optimistis sodium ion bisa menguasai 80% pasar. Perusahaannya mengembangkan baterai aki 12 volt untuk kendaraan dan saat ini masih memakai sel dari China. Emerald juga berencana mengembangkan anoda untuk sel sodium ion buatan AS.

Perusahaan lain, Peak Energy, menjalin kemitraan dengan General Motors pada Juni. Keduanya ingin membangun rantai pasok baterai sodium ion di AS untuk penyimpanan energi skala besar. Peak Energy berharap dapat membantu GM membuka fasilitas produksi di Michigan pada akhir 2028.

Alsym Energy dan ESS Tech juga melihat lonjakan kebutuhan listrik dari pusat data sebagai peluang. Baterai sodium ion dinilai bisa membantu menyalurkan energi terbarukan ke pusat data dan lebih murah dioperasikan karena tidak membutuhkan pendinginan sebanyak lithium ion. Alsym berencana mengirim baterai sodium ion buatan AS dalam jumlah ratusan megawatt jam pada 2027.

Hasa menilai produksi massal baterai sodium ion tetap menantang. Ia juga mengingatkan bahwa risiko kebakaran tidak nol. Namun, jika berhasil, teknologi ini bisa membuka pilihan strategis baru, mengurangi pemborosan listrik terbarukan, dan menekan biaya energi.

“Saya sangat percaya pada teknologi ini,” kata Hasa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....