OpenAI Rilis Asisten AI 'Dots', Keamanan Jadi Sorotan
- 30 Sep 2026 20:48 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- OpenAI telah meluncurkan 'dots', sebuah asisten AI yang dapat menjalankan tugas atas nama pengguna secara proaktif dan mandiri.
- CEO OpenAI Sam Altman mendeskripsikan dots sebagai agen yang sangat mumpuni dan selalu aktif yang dapat menangani berbagai tugas sesuai keinginan pengguna.
- OpenAI mempromosikan dots dalam bentuk karakter kartun lucu berwarna cerah yang dirancang sebagai asisten digital untuk orang-orang yang sibuk, meskipun terdapat kekhawatiran mengenai keamanan dan pengawasan AI.
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Di tengah kekhawatiran soal keamanan dan pengawasan AI, OpenAI resmi memperkenalkan "dots", asisten kecerdasan buatan yang diklaim mampu menjalankan tugas atas nama pengguna secara proaktif.
Dalam acara pengembang tahunan di San Francisco, CEO OpenAI Sam Altman menyebut "dots" sebagai agen yang sangat mumpuni dan selalu aktif, yang bisa menangani apa pun yang dipikirkan pengguna. Meski begitu, OpenAI mempromosikan dots sebagai karakter kartun lucu berwarna cerah yang berfungsi sebagai asisten digital bagi orang sibuk.
Altman mengatakan, pengguna cukup memberi dot mereka tanggung jawab, lalu dot akan mulai bekerja dan terus bekerja. Video acara menunjukkan orang berbicara dan memberi nama versi animasi dots mereka, lalu memberikan tugas seperti membangun situs web dan memesan kegiatan sepulang sekolah untuk anak.
Menariknya, Altman hampir sepenuhnya menghindari menyebut alat itu sebagai "agen", istilah yang sudah umum digunakan. Agen AI pada dasarnya adalah chatbot AI yang diprogram untuk beroperasi cukup mandiri.
Di acara yang sama, Altman menegaskan keputusan OpenAI untuk tidak melantai di bursa saham sampai perusahaan bisa membuat keputusan keamanan secara meyakinkan. OpenAI tengah bersiap untuk pencatatan besar yang berpotensi memberi valuasi hingga US$1,4 triliun. Altman mengatakan perlu waktu untuk memastikan keselarasan, pemantauan, keamanan, dan perlindungan tetap berada di depan kemampuan AI.
Acara OpenAI berlangsung saat Presiden Donald Trump menggelar makan siang di Gedung Putih bersama para pemimpin teknologi dan Ketua DPR AS Mike Johnson. Trump mengulangi keyakinannya bahwa perusahaan AI sebaiknya mengatur diri sendiri. Ia menyebut diskusi soal pembentukan komite 10 orang untuk mengawasi sektor ini, dengan pengawasan mandiri yang luar biasa.
Sejumlah peneliti dan kepala perusahaan menyerukan perlambatan pengembangan AI setelah makin banyak kasus pelanggaran oleh model perusahaan AI terungkap. Kepada BBC, Altman mengatakan, "Kita perlu menempuh jalan tengah." Ia berharap industri menemukan sikap yang lebih masuk akal dan pragmatis, tanpa menyebut nama perusahaan atau pemimpin tertentu.
Sehari sebelum acara, OpenAI mengatakan menunda peluncuran model terbarunya karena masalah keamanan yang muncul dalam pengujian internal. Sejak Juli, perusahaan menghadapi sejumlah masalah agen AI yang bertindak tidak semestinya, termasuk peretasan tanpa perintah ke platform AI Hugging Face, mengunggah gambar yang diambil agen AI dari obrolan pengguna ChatGPT ke situs pihak ketiga, dan mengakses informasi nonpublik milik pemerintah Australia.
OpenAI dan pesaingnya, Anthropic, sebelumnya juga menunda peluncuran publik model AI tertentu karena potensi risiko, terutama terkait keamanan siber atau peretasan. Altman juga menyinggung kemungkinan kehilangan kendali yang nyata atas sistem AI, serta risiko konsentrasi kekuasaan yang terlalu besar pada sedikit perusahaan, satu perusahaan, satu orang, atau satu negara.
OpenAI dan Anthropic diperkirakan melantai di pasar saham dalam beberapa bulan mendatang. Anthropic kemungkinan tahun ini, sedangkan OpenAI pada 2027. Altman mengaku ingin perusahaannya menjual saham di pasar publik. "Menurut saya, buruk bagi dunia jika OpenAI menunggu terlalu lama untuk go public," katanya. "Saya ingin orang-orang bisa ikut menikmati manfaat AI."
Kedua perusahaan menegaskan keyakinan bahwa AI menimbulkan risiko nyata dalam skala besar, baik bagi infrastruktur publik maupun keselamatan publik. Dalam pidato di PBB pekan lalu, Altman meminta standar AI nasional dan internasional untuk mengukur kemampuan alat AI, menilai risiko terkait, pengamanan AI, dan sejauh mana pengawasan manusia dipertahankan. Kepala Anthropic, Dario Amodei, mengatakan kepada PBB bahwa jika pengembangan AI yang cepat tidak dikelola dan diawasi dengan benar, versi teknologi itu di masa depan bisa menjadi risiko bagi seluruh umat manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....