Kindness Mob TikTok Viral, Balas Perundungan dengan Kebaikan
- 30 Sep 2026 20:48 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- Tyler Brickley, pemasar digital dari Kansas City, menggunakan kanal TikTok Kindness Mob dengan 500.000 pengikut untuk melawan perundungan dengan membanjiri korban dengan komentar positif.
- Laura Tigeleiro dari Staten Island yang menderita sklerosis multipel mengalami perundungan karena kondisi fisiknya tetapi kemudian menerima 15.000 komentar positif dari Kindness Mob.
- Media sosial yang sering dianggap sebagai tempat kekejaman dapat diubah menjadi alat untuk menyebarkan kebaikan dan dukungan kepada mereka yang membutuhkan.
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Media sosial kerap dianggap cermin kekejaman manusia. Namun Tyler Brickley, pemasar digital asal Kansas City, Amerika Serikat, membuktikan algoritma yang sama bisa dipakai untuk menyebarkan kebaikan. Lewat kanal TikTok Kindness Mob, ia mengerahkan sekitar 500.000 pengikut untuk membanjiri korban perundungan dengan komentar positif.
Salah satu penerima manfaatnya adalah Laura Tigeleiro dari Staten Island, New York. Ia mengidap sklerosis multipel, penyakit autoimun yang membuat salah satu matanya melorot. “Semua orang mengolok-olok mata saya,” katanya. Ia hanya ingin berbagi resep sehat dan mencari teman, tetapi menerima komentar kejam. Maret lalu, ponselnya mendadak ramai. Sebuah video viral mendapat lebih dari 15.000 komentar ramah. Ternyata ia sedang “diserang” Kindness Mob.
Brickley memulai proyek itu pada 2023. Ia menyebutnya bentuk trolling untuk kebaikan. Setiap hari, ia mengarahkan pengikutnya ke seseorang yang dirundung atau diabaikan, lalu meminta mereka membanjiri kolom komentar dengan pesan baik. “Kami membajak mesin perundungan online” seperti koordinasi dan anonimitas, katanya, “dan menggunakannya untuk kebajikan. Dan hasilnya berhasil.”
Menurut Brickley, ia telah mengorganisasi 350 mob. Rata-rata video mendapat 1.000 komentar; yang sukses bisa puluhan ribu hingga jutaan tayangan. Dalam satu aksi terbaru, sosialita Paris Hilton ikut berkomentar. Banyak target justru menyukai akun mereka dan tetap tinggal. Renee Penick, nenek dari Ohio, mengaku mendapat kekuatan saat mendampingi suaminya di rumah sakit. Nocturne, musisi dari New York, mendapat banyak penggemar baru hingga akan tur.
Bagi Tigeleiro, dampaknya mengubah hidup. Pengikutnya melonjak, TikTok mulai membayarnya, dan ia bisa membeli mobil baru untuk keluarga. “Saya bermimpi hidup lebih baik, dan Tyler memberi saya kesempatan itu,” ujarnya.
Fenomena ini menarik perhatian ilmuwan. Nicholas Christakis, profesor ilmu sosial dan alam Yale University, menyebutnya contoh teori penularan sosial: perilaku positif menyebar seperti virus. “Kita berevolusi untuk bisa jahat dan tribal, tetapi kita juga berevolusi untuk baik, mencintai, berteman, dan mengajar,” kata Christakis. Media sosial, menurut dia, sering membajak kualitas pro-sosial itu lewat anonimitas dan algoritma yang menonjolkan konflik. Kindness Mob dianggap memanfaatkan sisi alami manusia yang lebih ramah.
Penelitian Christakis menunjukkan kebaikan bisa berantai: Anda baik ke Susie, Susie baik ke Betty, Betty baik ke Tommy. Efeknya bisa terasa bahkan tanpa interaksi langsung. Ketika orang berhenti meladeni troll dan saling terhubung, riset menunjukkan troll pun bisa berubah.
Namun, mengorkestrasi kebaikan tidak mudah. Brickley sempat mengalami kelelahan. Pada September 2025, pengikutnya melonjak dari 30.000 ke 200.000. Setiap hari, 20 hingga 100 orang dinominasikan lewat situs Kindness Mob, tetapi ia hanya bisa memposting satu mob per hari. “Artinya ada 20 orang muncul di depan pintu saya setiap hari,” katanya. Ia harus menolak 19 orang, dan besoknya ada 20 lagi. Proyek ini juga tidak menguntungkan; pada Agustus, ia hanya mendapat US$39 dari TikTok. Ia sempat cuti beberapa bulan dan mengatur relawan.
Profesor Alice Marwick dari Data and Society Research Institute menilai gerakan seperti ini biasanya berumur pendek karena penggagasnya kelelahan. Ia menekankan tanggung jawab platform media sosial, tetapi menurut dia tidak bisa hanya menyalahkan algoritma. “Yang kita butuhkan adalah pergeseran norma sosial yang lebih besar tentang bagaimana memperlakukan orang online,” ujarnya.
Musim gugur lalu, Brickley menjalani operasi punggung. Saat terbangun, istrinya menyuruhnya melihat ponsel. Ia sendiri sedang jadi sasaran Kindness Mob. “Ada sekitar 1.000 komentar. Saya membaca semuanya sambil menangis,” kenangnya. Momen itu meyakinkannya bahwa gerakan ini nyata dan bisa membantu. “Ini terasa seperti panggilan. Kindness Mob baru satu langkah. Tapi kebaikan, untuk semua orang, selalu, terasa seperti tempat yang baik untuk memulai.”
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....