70 Juta Spesimen Museum Inggris Segera Online
- 30 Sep 2026 18:52 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- Proyek DiSSCo UK menggunakan teknologi AI dan robot untuk memindai sekitar 70 juta spesimen dari koleksi museum, kebun raya, dan universitas di seluruh Inggris.
- Digitalisasi koleksi museum yang sebelumnya diperkirakan membutuhkan ratusan tahun dapat diselesaikan dalam satu dekade berkat teknologi canggih.
- Proyek ini memungkinkan masyarakat mengakses koleksi langka seperti kumbang berkilau emas dan fosil Charles Darwin langsung melalui ponsel mereka.
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Bayangkan bisa menjelajahi jutaan spesimen langka—dari kumbang berkilau seperti emas hingga fosil yang dikumpulkan Charles Darwin—langsung dari ponsel Anda. Itulah yang sedang diwujudkan para peneliti di Inggris melalui proyek ambisius bernama Distributed System of Scientific Collections (DiSSCo UK).
Proyek ini menggunakan kecerdasan buatan (AI) dan robot untuk memindai serta menganalisis sekitar 70 juta spesimen dari koleksi museum, kebun raya, dan universitas di seluruh Inggris. Proses digitalisasi yang sebelumnya diperkirakan memakan waktu ratusan tahun, kini dapat diselesaikan hanya dalam satu dekade berkat teknologi tersebut.
Dr. Joanna Dunster dari Arts and Humanities Research Council (AHRC) mengungkapkan antusiasmenya. "Saya tidak sabar menjelajahi sumber daya ini bersama anak saya yang berusia empat tahun. Pengetahuannya tentang sains mungkin masih sedikit, tapi semangatnya luar biasa," ujarnya dikutip dari BBC News.
Yang menarik, tahap awal proyek ini tidak dimulai dari hewan besar seperti paus atau dinosaurus. Justru spesimen kecil yang menjadi prioritas—kumbang, kupu-kupu, ngengat, lalat, bunga kering, dan pakis. Material yang sering dianggap kurang glamor ini ternyata menyimpan rekaman terbaik tentang bagaimana lingkungan sekitar telah berubah selama berabad-abad.
Di Cardiff, tim akan memindai sekitar setengah juta spesimen serangga dan tumbuhan. Sementara di Skotlandia, Royal Botanic Garden Edinburgh dan National Museums Scotland menyimpan 13 juta spesimen yang mencakup perubahan dua abad flora dan fauna dari berbagai lanskap Skotlandia.
Sarah Addezio, Direktur Program DiSSCo UK, menjelaskan bahwa kemampuan menganalisis informasi dalam skala besar ini belum pernah ada sebelumnya. "Kami sekarang dapat menghubungkan dan menganalisis informasi itu pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," katanya.
Sebanyak 100 museum, kebun raya, universitas, dan organisasi lain terlibat dalam proyek ini. Setiap spesimen tidak hanya difoto, tetapi label-label kecil berisi informasi ilmiah penting—sering ditulis tangan puluhan bahkan ratusan tahun lalu—juga direkam secara digital.
Dr. Vincent Smith dari Natural History Museum London menyebut proyek ini akan "menggempur" penelitian tentang alam. "Koleksi sejarah alam mencatat periode perubahan yang panjang, sering melalui masa-masa fundamental seperti Revolusi Industri. Kami bisa melihat apa yang terjadi sebelumnya, dan yang terpenting, mulai memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya," jelasnya.
Dengan menggabungkan jutaan spesimen dan alat AI yang canggih, para peneliti dapat menyempurnakan model komputer tentang bagaimana dunia alami akan berubah di masa depan—termasuk dampak perubahan iklim dan pilihan pembangunan terhadap hilangnya spesies.
Bagi masyarakat umum, proyek ini membuka akses ke kekayaan koleksi yang selama ini tersimpan di lemari dan laci institusi. Dari ikan tripod buta yang menopang dirinya di dasar laut, hingga gigi kuda yang dikumpulkan Darwin sekitar tahun 1833 dari Argentina timur laut—semuanya akan dapat diakses secara terbuka.
"Ini adalah kesempatan untuk menampilkan materi dari seluruh negeri," ujar Jenny Geroni dari Amgueddfa Cymru - Museum Wales. "Setiap koleksi unik. Dengan mengambil materi dari seluruh Inggris, kita juga dapat membangun gambaran yang baik tentang apa yang terjadi di seluruh negara."
Proyek DiSSCo UK dipimpin oleh Natural History Museum dan didanai oleh UK Research and Innovation Agency. Selain membantu penelitian, digitalisasi ini juga akan membantu ilmuwan mempersiapkan tantangan masa depan—termasuk penelitian mineral yang dibutuhkan untuk teknologi hijau.
Setiap spesimen di museum adalah snapshot masa lalu. Dengan menyatukan puluhan juta kepingan puzzle ini, proyek ambisius tersebut tidak hanya merekam sejarah, tetapi juga membantu manusia memahami dan memprediksi masa depan planet ini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....