Kuliah Rp600 Juta demi Gelar Influencer

  • 30 Sep 2026 20:49 WIB
  •  Bandar Lampung
Poin Utama
  • Universitas di Inggris dan Amerika Serikat resmi membuka program sarjana pembuatan konten untuk menjawab permintaan pasar industri kreator global yang terus berkembang.
  • Destiny McGowan, lulusan Nottingham Trent University dengan gelar content creation, menempuh pendidikan selama tiga tahun dengan biaya sekitar £9.790 per tahun atau lebih dari Rp200 juta per tahunnya.
  • Program pembuatan konten tidak hanya mengajarkan keterampilan membuat video, tetapi juga strategi membangun audiens, berkolaborasi dengan merek, dan memonetisasi konten secara efektif.

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Di tengah lonjakan ekonomi kreator global, sejumlah universitas di Inggris dan Amerika Serikat resmi membuka program sarjana pembuatan konten atau content creation. Namun, biaya kuliah yang mencapai puluhan ribu poundsterling memicu perdebatan sengit: apakah gelar ini benar-benar sepadan?

Destiny McGowan, 21 tahun, adalah salah satu lulusan baru dari Nottingham Trent University dengan gelar content creation. Ia menempuh pendidikan tiga tahun dengan biaya sekitar £9.790 per tahun atau lebih dari Rp200 juta per tahunnya. Baginya, kursus itu memberikan keterampilan yang tidak hanya soal membuat video, tetapi juga membangun audiens, berkolaborasi dengan merek, dan memonetisasi konten.

"Saya selalu ingin menjadi wirausaha, jadi bagi saya kursus ini adalah tentang keterampilan yang bisa dialihkan," ujarnya. Destiny kini menghasilkan uang dari konten fesyen di akun pribadinya, membuat video untuk klien, dan menjadi pembawa acara live selling TikTok. Ia mengaku mendapat akses ke peralatan, teknologi, dan jaringan industri yang menurutnya butuh 5–10 tahun untuk dibangun sendiri.

Nottingham Trent University meluncurkan program ini pada 2022 dan mengklaim memberikan pengalaman langsung. University of Brighton juga menawarkan kursus serupa dengan fokus menciptakan "konten yang menembus kebisingan". Di Amerika Serikat, Arizona State University menyediakan program serupa dengan biaya $14.724 per tahun untuk penduduk setempat atau sekitar Rp240 juta.

Namun, tidak semua kreator konten sepakat. Knightenator, kreator asal Inggris dengan 65.000 pengikut di Twitch dan lebih dari 100.000 di TikTok, meragukan nilai gelar tersebut. "Dari pengalaman saya, perusahaan tidak akan terlalu peduli apakah Anda punya gelar pembuat konten," tegasnya. Ia menilai internet sudah penuh dengan saran gratis untuk memulai, dan yang terpenting adalah kemauan serta menemukan ceruk pasar sendiri.

Di sisi lain, Aiesha Beasley dari Phoenix, Arizona, justru berpendapat sebaliknya. Perempuan 36 tahun yang aktif membahas makanan, fesyen, dan gaya hidup ini mengaku akan mendaftar kursus semacam itu jika tersedia saat ia mulai blogging pada awal 2010-an. Menurutnya, gelar akan memberikan "jalur yang lebih jelas", terutama soal cara mengubah hobi menjadi sumber penghasilan. "Anda benar-benar harus memiliki pola pikir bisnis," ujarnya.

Ketua program content creation Nottingham Trent University, Jacky Gurr, menegaskan bahwa mayoritas mahasiswa di programnya tidak bercita-cita menjadi influencer. Baginya, pembuatan konten adalah keterampilan profesional yang semakin dibutuhkan organisasi, baik untuk wirausaha, pekerjaan in-house, agensi, maupun pekerja lepas. "Keterampilan itu bisa diajarkan," tegasnya, seraya menambahkan bahwa sisi bisnis pembuatan konten menjadi bagian penting dalam kurikulum.

Namun, Gurr juga mengingatkan bahwa kesuksesan sebagai influencer sangat bergantung pada keberuntungan. "Sebagian besar menjadi influencer sukses adalah soal keberuntungan, dan kami tidak bisa mengajarkan keberuntungan atau kepribadian," pungkasnya.

Fenomena ini muncul saat ekonomi kreator terus berkembang pesat. Laporan menunjukkan kreator YouTube saja menyumbang £2,2 miliar bagi ekonomi Inggris. Survei 2024 juga mengungkap satu dari tiga orang berusia 18–30 tahun di AS ingin menjadi influencer.

Di Indonesia sendiri, pasar pemasaran influencer diproyeksikan mencapai US$900 juta pada 2026, tumbuh sekitar 28,5% per tahun, menjadikannya ekonomi kreator terbesar dan tercepat di Asia Tenggara. Dominasi TikTok dan Instagram mencapai 98,9% dari pasar influencer lokal. Namun, ketimpangan pendapatan tetap menjadi tantangan: sekitar 55% kreator hanya berpenghasilan di bawah US$18.000 atau sekitar Rp320 juta per tahun.

Pertanyaannya kini: apakah gelar sarjana pembuatan konten menjadi investasi cerdas, atau sekadar formalitas di industri yang lebih menghargai portofolio dan keberuntungan?

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....