Sisa Makanan Picu Pemanasan Global, Ini Penjelasannya
- 30 Sep 2026 14:31 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- Sisa makanan yang tidak dihabiskan dan sayur yang membusuk di kulkas turut berkontribusi pada pemanasan global melalui dampak lingkungan sejak produksi hingga penguraian limbah.
- Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) melaporkan bahwa susut dan sisa pangan menyumbang sekitar 10 persen terhadap total emisi gas rumah kaca global.
- Hari Kesadaran Internasional tentang Kehilangan dan Pemborosan Pangan diperingati setiap 29 September untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak pemborosan pangan terhadap lingkungan.
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Sisa makanan yang tidak dihabiskan dan sayur yang membusuk di kulkas ternyata turut menyumbang pemanasan global. Dampak lingkungan ini muncul sejak makanan diproduksi hingga membusuk setelah dibuang.
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyebut susut dan sisa pangan berkontribusi sekitar 10 persen terhadap emisi gas rumah kaca global. Persoalan ini menjadi perhatian dalam Hari Kesadaran Internasional tentang Kehilangan dan Pemborosan Pangan yang diperingati setiap 29 September.
Hubungan makanan terbuang dengan pemanasan global dapat dijelaskan melalui dua hal, yakni emisi sepanjang proses penyediaan makanan dan gas yang dihasilkan saat sampah makanan membusuk. Sebelum sampai di meja makan, bahan pangan membutuhkan lahan, air, pupuk, serta energi untuk diproduksi. Ketika makanan akhirnya dibuang, sumber daya tersebut sudah terpakai dan emisi dari proses penyediaannya telah dilepaskan, tetapi manfaat gizinya tidak diperoleh manusia.
Masalah berikutnya muncul ketika sisa makanan tertimbun di tempat pemrosesan akhir (TPA). Dalam kondisi kekurangan oksigen, mikroorganisme menguraikan bahan organik dan menghasilkan metana. Menurut Program Lingkungan PBB (UNEP), daya pemanasan metana lebih dari 80 kali lipat karbon dioksida jika dibandingkan dalam rentang waktu 20 tahun.
Berdasarkan Food Waste Index Report 2024 dari UNEP, sekitar 1,05 miliar ton makanan diperkirakan terbuang di tingkat rumah tangga, layanan makanan, dan ritel. Dari total tersebut, rumah tangga menyumbang 60 persen, layanan makanan 28 persen, dan ritel 12 persen. Sementara itu, sekitar 13 persen pangan hilang setelah panen dan sebelum mencapai ritel.
Di Indonesia, kajian Bappenas pada 2021 menunjukkan timbulan susut dan sisa pangan setara 115–184 kilogram per tahun. Jumlah pangan yang terbuang tersebut diperkirakan berpotensi memenuhi kebutuhan nutrisi 61–125 juta orang atau sekitar 30 persen populasi Tanah Air.
Persoalan makanan sisa juga menjadi salah satu isu dalam program prioritas Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG). Badan Pangan Nasional (Bapanas) menekankan pentingnya memasukkan aspek lingkungan dalam pelaksanaan MBG. Mengutip data Bappenas tahun 2024, potensi food waste dari MBG di sekolah mencapai 1,1–1,4 juta ton per tahun, dengan 451–603 ribu ton di antaranya berupa makanan berlebih yang masih berpotensi diselamatkan.
Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong program MBG berjalan efisien untuk menekan jumlah tersebut sekaligus mengurangi dampak lingkungan. “Ketika sisa makanan dapat ditekan, kita tidak hanya menghemat anggaran, tetapi juga mengurangi beban lingkungan dari limbah pangan,” ujar Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat BGN Khairul Hidayati.
Mengurangi makanan terbuang dan mencegah sampah organik menumpuk di TPA dapat membantu menekan emisi gas rumah kaca. Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya bersama menjaga bumi dari dampak pemanasan global yang semakin nyata.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....