Trik Framing Media yang Sering Tak Disadari

  • 31 Agt 2026 16:22 WIB
  •  Bandar Lampung
Poin Utama
  • Media memiliki kecenderungan untuk memusatkan perhatian pada peristiwa tertentu dan menempatkannya dalam konteks makna yang spesifik, suatu proses yang disebut framing atau pembingkaian.
  • Teori Framing dikemukakan oleh sosiolog asal Kanada-Amerika, Erving Goffman, untuk menjelaskan mengapa pembaca dari dua berita berbeda tentang peristiwa yang sama dapat mendapatkan kesan yang bertolak belakang.
  • Cara media membingkai sebuah peristiwa dapat mengarahkan opini publik ke arah tertentu, bahkan tanpa disadari oleh pembacanya sendiri.

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Pernahkah Anda membaca dua berita berbeda tentang peristiwa yang sama, namun kesan yang Anda dapatkan justru bertolak belakang? Fenomena ini bukan kebetulan. Ada teori komunikasi yang menjelaskan mengapa cara media "membingkai" sebuah peristiwa bisa mengarahkan opini publik ke arah tertentu, bahkan tanpa disadari oleh pembacanya sendiri.

Teori tersebut dikenal dengan nama Teori Framing, yang dikemukakan oleh sosiolog asal Kanada-Amerika, Erving Goffman. Menurut teori ini, media memiliki kecenderungan untuk memusatkan perhatian pada peristiwa tertentu, lalu menempatkannya dalam konteks makna tertentu. Proses inilah yang disebut framing atau pembingkaian.

Mengapa Framing Begitu Berpengaruh?

Goffman menjelaskan bahwa cara suatu peristiwa diungkapkan kepada audiens dapat memengaruhi bagaimana seseorang memproses informasi tersebut, hingga akhirnya menentukan pilihan atau sikap yang diambil. Dengan kata lain, bukan hanya apa yang diberitakan yang penting, tetapi juga bagaimana cara peristiwa itu disampaikan.

Sebagai contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari, sebuah aksi demonstrasi bisa diberitakan dengan judul "Massa Rusuh Blokir Jalan Protokol" atau "Warga Perjuangkan Hak yang Terabaikan". Peristiwa yang sama, namun framing yang berbeda dapat menggiring emosi dan persepsi pembaca ke arah yang jauh berbeda pula.

Dua Kerangka Utama Menurut Goffman

Dalam teorinya, Goffman mengungkapkan bahwa setiap individu menafsirkan peristiwa di sekitarnya menggunakan primary framework atau kerangka utama. Goffman membagi kerangka utama ini menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Kerangka Natural — digunakan untuk memahami peristiwa yang terjadi secara alamiah, tanpa campur tangan atau kehendak manusia, misalnya fenomena cuaca atau bencana alam.
  2. Kerangka Sosial — digunakan untuk memahami peristiwa yang melibatkan motif, tujuan, dan kehendak manusia, misalnya kebijakan pemerintah atau konflik sosial.

Kedua kerangka ini membantu seseorang menafsirkan informasi yang diterimanya sehingga pengalaman tersebut dapat dipahami dalam konteks sosial yang lebih luas.

Aplikasi Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari

Teori Framing tidak hanya relevan bagi kalangan akademisi atau jurnalis, tetapi juga sangat dekat dengan keseharian masyarakat. Berikut beberapa contoh penerapannya:

  • Media sosial dan berita viral: Judul clickbait di media sosial sering kali membingkai suatu isu secara berlebihan agar menarik perhatian, meski isi beritanya tidak sedramatis judulnya.
  • Iklan dan pemasaran: Sebuah produk makanan bisa dibingkai sebagai "rendah gula" alih-alih "mengandung pemanis buatan", meski keduanya menggambarkan hal serupa.
  • Komunikasi politik: Kebijakan kenaikan harga sering dibingkai sebagai "penyesuaian tarif" untuk mengurangi kesan negatif di mata publik.
  • Konten pendidikan dan kesehatan: Framing digunakan agar pesan-pesan penting, seperti ajakan vaksinasi, lebih mudah diterima masyarakat.

Memahami Teori Framing menjadi bekal penting bagi masyarakat modern agar lebih kritis dalam mengonsumsi informasi. Dengan mengenali bagaimana sebuah berita dibingkai, pembaca dapat lebih bijak memilah fakta dari sekadar sudut pandang yang ingin ditonjolkan oleh penyampai pesan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....