Teori Ini Jelaskan Kenapa Opini Publik Terbelah

  • 31 Agt 2026 16:22 WIB
  •  Bandar Lampung
Poin Utama
  • Teori individual differences menjelaskan bahwa setiap individu menerima pesan media sesuai dengan kebutuhan, kepentingan pribadi, sikap, kepercayaan, dan nilai yang dianutnya masing-masing.
  • Perbedaan latar belakang pendidikan, agama, budaya, dan kondisi ekonomi membuat khalayak bersifat heterogen sehingga tidak bisa diperlakukan sebagai kelompok yang seragam.
  • Satu unggahan berita di media sosial dapat memicu reaksi berbeda dari setiap orang karena faktor-faktor individual yang unik pada masing-masing individu.

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Pernahkah Anda memperhatikan mengapa satu unggahan berita di media sosial bisa memicu reaksi yang jauh berbeda dari setiap orang yang membacanya? Ada yang setuju, ada yang menolak mentah-mentah, bahkan ada yang sama sekali tidak peduli. Fenomena ini ternyata bukan kebetulan, melainkan sudah dijelaskan secara ilmiah lewat teori individual differences dalam ilmu komunikasi.

Teori yang dicetuskan oleh Melvin DeFleur ini menjelaskan bahwa setiap individu menerima pesan media sesuai dengan kebutuhan, kepentingan pribadi, sikap, kepercayaan, dan nilai yang dianutnya masing-masing. Perbedaan latar belakang pendidikan, agama, budaya, hingga kondisi ekonomi membuat khalayak bersifat heterogen, sehingga tidak bisa diperlakukan sebagai kelompok yang seragam ketika menerima terpaan media.

Gagasan DeFleur ini diperkuat oleh temuan Carl Hovland yang menyebutkan bahwa khalayak pada dasarnya bersikap selektif saat menerima pesan media massa. Teori individual differences sekaligus membantah teori jarum suntik atau hypodermic needle theory, yang selama ini mengasumsikan semua orang akan menerima dan terpengaruh pesan media dengan cara yang sama persis.

Tiga Konsep Kunci di Balik Perilaku Khalayak

Dalam praktiknya, teori ini dibangun di atas tiga konsep utama yang bisa ditemui dalam keseharian kita.

Pertama, terpaan selektif (selective exposure). Konsep ini menjelaskan kecenderungan seseorang memilih media yang sejalan dengan keyakinan dan minatnya sendiri. Contoh nyatanya bisa dilihat dari kebiasaan menonton kanal berita atau mengikuti akun media sosial tertentu yang dianggap "sepaham", sembari menghindari sumber informasi yang dinilai bertentangan dengan pandangan pribadi.

Kedua, persepsi selektif (selective perception). Konsep ini menyoroti bagaimana pesan yang sama dapat dimaknai berbeda oleh setiap orang, tergantung disposisi masing-masing individu. Contohnya, sebuah kebijakan pemerintah yang sama bisa ditafsirkan sebagai langkah positif oleh sebagian kelompok, namun dianggap merugikan oleh kelompok lain, tergantung latar belakang dan kepentingan mereka.

Ketiga, retensi selektif (selective retention). Konsep ini menjelaskan bahwa individu cenderung hanya mengingat informasi yang sesuai dengan sikap dan kepercayaannya, sementara pesan yang bertentangan lebih mudah terlupakan. Faktor seperti tingkat kepentingan pesan, kesesuaian dengan keyakinan, intensitas penyampaian, dan cara pesan itu disampaikan turut memengaruhi seberapa kuat pesan tersebut tersimpan dalam ingatan.

Relevansi di Era Digital

Di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, teori individual differences menjadi semakin relevan untuk memahami mengapa algoritma media sosial mampu "membaca" preferensi pengguna dengan begitu personal. Pemahaman ini juga penting bagi para praktisi komunikasi, jurnalis, hingga pembuat kebijakan publik, agar pesan yang disampaikan dapat lebih tepat sasaran dengan mempertimbangkan keberagaman karakteristik khalayak, bukan menganggap semua orang akan menerima pesan yang sama dengan cara yang seragam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....