Sering Cek HP? Begini Cara Media "Menjerat" Otak

  • 31 Agt 2026 16:22 WIB
  •  Bandar Lampung
Poin Utama
  • Teori Ketergantungan (Dependency Theory) menjelaskan hubungan erat antara khalayak, media, dan struktur sosial dalam masyarakat.
  • Ketergantungan masyarakat pada media untuk memenuhi kebutuhan informasi berbanding lurus dengan besarnya pengaruh media terhadap sikap dan perilaku mereka.
  • Kebiasaan refleks meraih ponsel untuk mengecek notifikasi, media sosial, atau berita merupakan praktik nyata dari konsep ketergantungan media yang dijelaskan dalam ilmu komunikasi.

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Coba tanyakan pada diri sendiri, berapa kali dalam sehari tangan refleks meraih ponsel hanya untuk mengecek notifikasi, membuka media sosial, atau mencari berita terbaru? Kebiasaan yang tampak sepele ini ternyata sudah lama dijelaskan oleh ilmu komunikasi lewat sebuah konsep bernama Teori Ketergantungan atau Dependency Theory.

Teori yang dicetuskan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur ini menjelaskan bahwa ada hubungan erat antara khalayak (masyarakat sebagai penerima informasi), media, dan struktur sosial di sekitarnya. Intinya, semakin masyarakat bergantung pada media untuk memenuhi kebutuhan informasi, semakin besar pula pengaruh media tersebut terhadap sikap dan perilaku mereka sehari-hari.

Dua Sumber Ketergantungan

Menurut teori ini, ketergantungan masyarakat terhadap media muncul dari dua sumber utama.

Pertama, masyarakat cenderung mengandalkan media tertentu untuk mencapai tujuan mereka, entah itu mencari informasi kerja, hiburan, atau sekadar mengisi waktu luang. Semakin sering kebutuhan itu terpenuhi oleh satu media, semakin kuat pula ikatan ketergantungan yang terbentuk.

Kedua, kondisi sosial turut memengaruhi pilihan media seseorang. Sebagai contoh, mahasiswa yang tengah menyusun skripsi akan lebih bergantung pada jurnal daring dan mesin pencari akademik, sementara ibu rumah tangga yang ingin mengatur keuangan keluarga mungkin lebih sering membuka aplikasi belanja atau konten edukasi finansial di media sosial. Kebutuhan sosial inilah yang mengarahkan pilihan media massa yang dikonsumsi.

Empat Tahap Terbentuknya Ketergantungan

Ball-Rokeach dan Defleur menjelaskan bahwa hubungan ketergantungan antara khalayak dan media terbentuk melalui empat tahap.

Tahap pertama dimulai ketika seseorang tertarik pada konten media karena dianggap mampu memenuhi kebutuhan akan pemahaman, informasi, atau hiburan. Contohnya, seseorang mulai rajin membuka aplikasi berita karena ingin memahami situasi ekonomi terkini.

Tahap kedua, intensitas hubungan itu berkembang secara berbeda-beda pada tiap individu. Semakin sering media diakses, semakin kuat rangsangan kognitif dan afektif yang muncul. Rangsangan kognitif membuat seseorang tetap fokus dan memberi perhatian pada konten tersebut, sementara rangsangan afektif meningkatkan rasa puas saat mengonsumsinya.

Tahap ketiga, kedua rangsangan tadi mendorong tingkat keterlibatan yang lebih dalam, sehingga informasi yang diterima diproses dan bahkan diingat lebih lama.

Tahap keempat, keterlibatan yang tinggi ini pada akhirnya memengaruhi kognitif dan sikap seseorang dalam jangka panjang. Inilah mengapa opini publik, tren gaya hidup, hingga pola konsumsi masyarakat kerap terbentuk dari kebiasaan mengakses media tertentu secara konsisten.

Relevansi di Kehidupan Sehari-hari

Fenomena ini sangat terasa di era digital saat ini. Ketergantungan pada media sosial untuk mendapatkan validasi, aplikasi berita untuk update kondisi terkini, hingga platform belanja daring untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, semuanya merupakan bentuk nyata dari teori ketergantungan media.

Fenomena serupa juga tampak saat masyarakat mencari informasi resmi dan tepercaya melalui media publik seperti RRI, terutama pada situasi penting seperti bencana alam, kebijakan pemerintah, atau perkembangan ekonomi nasional. Semakin kompleks kondisi sosial yang dihadapi, semakin besar pula kebutuhan masyarakat akan sumber informasi yang dapat diandalkan.

Memahami teori ini penting agar masyarakat lebih sadar dan bijak dalam mengonsumsi media, memilih sumber informasi yang kredibel, serta tidak mudah terjebak dalam ketergantungan yang justru membatasi cara pandang terhadap suatu isu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....