Kenapa Netflix dan Hollywood Kuasai Selera Kita?

  • 31 Agt 2026 14:58 WIB
  •  Bandar Lampung
Poin Utama
  • Generasi muda Indonesia lebih akrab dengan konten superhero Marvel dan drama Hollywood dibanding cerita rakyat Nusantara, mencerminkan fenomena imperialisme budaya.
  • Teori Cultural Imperialism yang diperkenalkan Herbert Schiller menjelaskan bagaimana negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, menguasai industri media secara global dan membentuk pola pikir masyarakat.
  • Media Barat yang dominan mampu mempengaruhi gaya hidup, preferensi, dan konsumsi budaya masyarakat Indonesia melalui hegemoni informasi dan hiburan.

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Pernahkah Anda menyadari betapa akrabnya kita dengan superhero Marvel, alur cerita drama Hollywood, atau tren fesyen ala Barat, sementara cerita rakyat Nusantara justru terasa asing bagi generasi muda? Fenomena ini bukan kebetulan. Ada teori komunikasi yang menjelaskannya secara gamblang: Cultural Imperialism atau imperialisme budaya.

Mengenal Teori Cultural Imperialism

Teori yang diperkenalkan oleh akademisi Herbert Schiller ini menyoroti bagaimana media Barat mendominasi lanskap informasi dan hiburan secara global. Menurut Schiller, negara-negara Barat—terutama Amerika Serikat—menguasai industri media dalam skala luas sehingga mampu membentuk pola pikir, gaya hidup, hingga preferensi masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Schiller berpendapat bahwa media non-Barat kerap kali justru meniru format, gaya, dan nilai-nilai budaya yang disajikan media Barat. Proses peniruan inilah yang oleh Schiller disebut sebagai bentuk "penjajahan budaya". Dampaknya tidak main-main: identitas lokal berisiko tergerus, sementara pengaruh budaya Barat semakin menguat dan mengakar di tengah masyarakat global.

Mengapa Media Barat Begitu Dominan?

Ada dua faktor utama yang membuat media Barat mampu memproduksi dan menguasai pasar produk media massa, mulai dari film, komik, hingga pemberitaan.

Pertama, kekuatan finansial. Industri media Barat memiliki modal besar untuk melakukan produksi massal, yang pada akhirnya diarahkan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Modal inilah yang memungkinkan mereka membanjiri pasar global dengan konten dalam jumlah dan frekuensi yang sulit ditandingi industri media negara berkembang.

Kedua, penguasaan teknologi mutakhir. Kemampuan finansial yang besar turut membuka akses terhadap teknologi produksi terdepan, sehingga kualitas visual dan naratif konten media Barat terus meningkat. Perpaduan antara modal kuat dan teknologi canggih inilah yang menjadikan produk media Barat begitu memikat, sehingga masyarakat di berbagai negara cenderung lebih memilih mengonsumsi tontonan dan bacaan asal Barat ketimbang produk lokal.

Jejaknya dalam Keseharian Kita

Teori ini bukan sekadar wacana akademis di ruang kuliah. Jejaknya bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari:

  • Hiburan: Deretan film Hollywood dan serial Netflix mendominasi daftar tontonan favorit, sementara film-film lokal harus berjuang keras merebut perhatian penonton.
  • Gaya hidup: Tren fesyen, gaya rambut, hingga kebiasaan merayakan hari besar seperti Halloween mulai lekat di kalangan anak muda perkotaan, menggeser sebagian tradisi lokal.
  • Konsumsi berita: Kantor berita global asal Barat kerap menjadi rujukan utama dalam memahami isu-isu dunia, yang secara tidak langsung turut membentuk sudut pandang publik terhadap suatu peristiwa.
  • Bahasa dan pergaulan: Penggunaan istilah-istilah bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari makin marak, terutama di kalangan generasi muda yang aktif di media sosial.

Refleksi bagi Masyarakat Indonesia

Fenomena ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih bijak dalam mengonsumsi produk media. Menikmati karya media global tentu sah-sah saja, namun penting pula untuk tetap merawat dan mengangkat produk budaya lokal agar tidak semakin tergerus arus globalisasi.

Penguatan industri media dalam negeri, baik dari sisi kualitas produksi maupun pemanfaatan teknologi, menjadi salah satu kunci agar budaya dan identitas lokal tetap memiliki tempat di tengah gempuran dominasi media Barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....