Alasan Ilmiah Seseorang Percaya Media Tertentu

  • 31 Agt 2026 12:25 WIB
  •  Bandar Lampung
Poin Utama
  • Teori expectancy value menjelaskan mengapa sebagian orang setia membaca berita melalui aplikasi tertentu sementara yang lain menghindarinya, didasarkan pada kepuasan dan keterikatan individu dengan media tersebut.
  • Expectancy value merupakan pengembangan dari teori uses and gratification yang lebih menekankan pada tingkat keterikatan individu dengan media yang mereka konsumsi.
  • Kepuasan seseorang terhadap sebuah media ditentukan oleh sikap mereka terhadap media itu sendiri, bukan hanya sekadar kebiasaan atau preferensi acak.

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Pernahkah kamu bertanya-tanya, mengapa sebagian orang begitu setia membaca berita lewat aplikasi tertentu, sementara yang lain justru memilih menghindarinya sama sekali? Jawabannya ternyata bukan sekadar soal kebiasaan, melainkan berkaitan dengan sebuah teori komunikasi bernama expectancy value atau teori pengharapan nilai.

Teori ini merupakan pengembangan dari teori uses and gratification yang lebih dulu populer di kalangan akademisi komunikasi. Bedanya, expectancy value menitikberatkan pada keterikatan individu dengan media yang mereka konsumsi. Dengan kata lain, seberapa puas seseorang terhadap sebuah media sangat ditentukan oleh sikap orang tersebut terhadap media itu sendiri.

Kepercayaan dan Penilaian Jadi Kunci

Menurut teori ini, setiap individu pada dasarnya selalu berpijak pada kepercayaan dan penilaian (beliefs and evaluations) dalam menjalani hidupnya, termasuk saat memilih media mana yang akan dikonsumsi. Artinya, pilihan seseorang terhadap suatu platform berita, media sosial, atau tayangan tertentu, tidak muncul begitu saja. Ada proses penilaian di baliknya, baik disadari maupun tidak.

Secara garis besar, teori pengharapan nilai dibangun dari dua komponen utama. Pertama, nilai (value) dari tujuan yang ingin dicapai seseorang saat mengakses media. Kedua, harapan (expectancy) bahwa media tersebut mampu memenuhi tujuan itu.

Dari dua komponen dasar tersebut, ahli komunikasi John Keller kemudian mengembangkan model pembelajaran yang lebih rinci bersama Kopp pada 1987. Model ini dikenal dengan akronim ARCS, singkatan dari attention (perhatian), relevance (relevansi), confidence (keyakinan), dan satisfaction (kepuasan). Keempat unsur ini saling berkaitan dalam menentukan apakah seseorang akan terus menggunakan suatu media atau justru meninggalkannya.

Contoh Nyata dalam Keseharian

Penerapan teori ini sebenarnya sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari. Ambil contoh sederhana: kebiasaan membaca berita secara online. Jika seseorang meyakini bahwa portal berita digital menyajikan informasi yang akurat, cepat, dan relevan dengan kebutuhannya, maka ia akan cenderung terus mengakses media tersebut untuk memuaskan rasa ingin tahunya.

Sebaliknya, apabila seseorang merasa suatu media online cenderung menyajikan berita bias, tidak berimbang, atau sulit dipercaya, besar kemungkinan ia akan berpaling. Orang tersebut akan mencari sumber informasi lain yang dinilai lebih kredibel, entah itu media resmi, kanal berita nasional, atau bahkan kembali ke media konvensional seperti radio dan televisi.

Fenomena ini juga bisa dilihat dalam pilihan platform streaming musik, aplikasi belanja daring, hingga media sosial. Seseorang akan bertahan menggunakan suatu aplikasi selama harapannya terpenuhi, dan akan berpindah begitu penilaiannya terhadap aplikasi itu berubah negatif.

Relevansi di Era Digital

Di tengah derasnya arus informasi saat ini, teori pengharapan nilai menjadi semakin relevan untuk dipahami, baik oleh masyarakat sebagai konsumen media maupun oleh pengelola media itu sendiri. Bagi pengelola media, memahami teori ini berarti memahami pentingnya membangun kepercayaan melalui konten yang akurat, relevan, dan memuaskan kebutuhan audiens.

Sementara bagi masyarakat, teori ini mengingatkan bahwa setiap pilihan mengonsumsi media sesungguhnya adalah hasil dari penilaian pribadi, bukan sekadar kebetulan. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk terus kritis dalam memilih sumber informasi yang benar-benar dapat dipercaya di tengah banjir konten digital saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....