Kenapa Kamu Pilih Netflix, Bukan TV?
- 31 Agt 2026 12:31 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- Teori Uses and Gratifications menjelaskan bahwa pengguna media adalah konsumen aktif yang memilih platform sesuai kebutuhan mereka, bukan sekadar penerima pasif.
- Masyarakat lebih memilih platform digital seperti YouTube dan Instagram karena mereka secara aktif mengendalikan jenis media yang ingin dikonsumsi.
- Pengguna media tidak diatur oleh media, tetapi justru merekalah yang menentukan media mana yang paling sesuai dengan keperluan dan preferensi pribadi mereka.
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Pernahkah Anda bertanya, mengapa sebagian orang lebih memilih membuka YouTube ketimbang menyalakan televisi, atau lebih sering scroll Instagram daripada membaca koran cetak? Jawabannya ternyata sudah lama dijelaskan oleh sebuah teori komunikasi bernama Uses and Gratifications.
Teori ini menegaskan satu hal penting: pengguna media bukan sekadar penonton pasif yang menerima apa saja yang disodorkan layar. Sebaliknya, merekalah yang aktif memilih, menentukan, dan mencari media yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Dengan kata lain, bukan media yang mengatur kita, tetapi kitalah yang mengendalikan media mana yang akan dikonsumsi.
Asal-usul dan Perkembangan Teori
Teori Uses and Gratifications pada mulanya dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin DeFleur sebagai bagian dari media system dependency theory. Konsep ini kemudian diperkaya oleh Elihu Katz, Jay Blumler, dan Michael Gurevitch, sehingga menjadi salah satu kerangka teori paling berpengaruh dalam studi komunikasi massa hingga saat ini.
Lima Asumsi Dasar yang Perlu Diketahui
Menurut teori ini, ada lima asumsi utama yang menjelaskan bagaimana masyarakat berinteraksi dengan media, yaitu:
- Audiens berperan aktif dan menggunakan media untuk mencapai tujuan tertentu, bukan sekadar mengisi waktu luang.
- Inisiatif menghubungkan kebutuhan dengan pilihan media sepenuhnya berada di tangan audiens itu sendiri.
- Media harus bersaing dengan berbagai sumber informasi dan hiburan lain untuk memenuhi kebutuhan audiens.
- Setiap individu memiliki kesadaran yang cukup tentang motivasi dan kepentingannya dalam menggunakan media.
- Nilai dan preferensi audiens terhadap konten atau media tertentu terbentuk melalui proses yang berkelanjutan.
Contoh Nyata dalam Kehidupan Sehari-hari
Penerapan teori ini sangat mudah ditemukan dalam keseharian masyarakat modern. Ambil contoh sederhana: seseorang yang ingin mendapatkan informasi cepat tentang berita terkini akan membuka aplikasi berita online atau media sosial, bukan menunggu siaran berita pukul tujuh malam di televisi.
Contoh lain, seorang pelajar yang butuh hiburan ringan setelah lelah belajar mungkin memilih menonton video pendek di TikTok, sementara rekannya yang ingin belajar hal baru justru membuka kanal edukasi di YouTube. Keduanya menggunakan media yang berbeda karena kebutuhan dan tujuan yang berbeda pula, sesuai prinsip dasar teori ini.
Begitu pula ketika seseorang memilih mendengarkan siaran radio saat berkendara karena butuh informasi lalu lintas secara langsung, atau memilih podcast saat berolahraga untuk menemani waktu istirahat. Semua pilihan itu menunjukkan bahwa audiens secara sadar memilah media sesuai kebutuhan spesifik mereka, bukan asal mengikuti tren.
Relevansi di Era Digital
Di tengah banjir pilihan platform digital saat ini, mulai dari media sosial, layanan streaming, hingga portal berita daring, teori Uses and Gratifications semakin relevan untuk memahami perilaku masyarakat. Setiap platform kini bersaing ketat untuk memenuhi kebutuhan penggunanya, baik itu kebutuhan informasi, hiburan, interaksi sosial, maupun aktualisasi diri.
Pemahaman terhadap teori ini juga penting bagi para pelaku media dan kreator konten, agar mampu menyajikan konten yang benar-benar menjawab kebutuhan audiens, bukan sekadar mengejar jumlah tayangan semata.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....